Minggu, 12 Oktober 2008

Lentera Kehidupan

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang

Jumat, 12 September 2008

Tentang Aku...

"Citra Lardiana Putri" nama yang terukir indah dan mempunyai sebuah pengharapan besar dari orang tuaku untuk aku menjadi anak yang super hebat. aku dilahirkan di sebuah desa yang sejuk. tepatnya di Tegal, 10 Juni 1988. aku anak ke-7 dari 9 bersaudara. wah, keluarga yang cukup besar kata seorang temanku. Subhanallah, indahnya kasih sayang sesama saudara. mungkin, ketika hari-hari biasa rumah terasa sepi karena di gubuk surga nan indah itu hanya seorang ibu dan 2 adikku yang masih sekolah di tingkat SLTA. Ayahku sudah meninggal 8 tahun silam. waktu yang cukup lama bagi seorang gadis yang ditinggalkan oleh ayahnya ketika dia menginjak kelas 1 SLTP, masa-masa yang sulit karena gadis kecil membutuhkan perhatian dan ingin membanggakan ayahnya. gadis itu biasa di sebut "Citra". Bulan ramadhan kini melangkah dengan lambat nan pasti, tak terasa sudah 13 hari aku menjalaninya dengan teman-teman di kos Khodijah Binti Khuwailid, sebuah kos yang luar biasa dimana ukhuwah dibingkai dalam manisnya kasih sayang. nManage your mind for success" kata-kata yang selalu menjadi motivasi untuk aku bergerak lebih cepat mengambil sebuah peluang yang ada. Harapan itu masih ada...

My Dream...

Bintang...kini kau telah redup bersama gelapnya malam. akankah kau tetap setia menemaniku, disaat aku lengah. Aku ingin menjadi yang terbaik. Tetaplah berjuang mujahidah, Harapan itu masih ada...

Kaulah Bintangku

”Kaulah Bintangku...”

Dheana Putri



Dapatkah Aga mendapatkan cinta dari Safira? Mustahil. Namun, Aga bersikeras untuk bisa meluluhkan hati Safira. Maklum, dia sedang taruhan dengan temannya yang bernama Anggi dan Agus. Siapa yang bisa menjadi pacar gadis cantik, pintar, tajir dan sholeh seperti Safira akan mendapatkan HP mereka yang kalah. Aga dengan paras wajah yang hitam manis, cool, supel dan banyak digandrungi oleh teman-teman putrinya. Karena selain punya wajah yang cukup menarik, dia juga menjabat sebagai ketua Osis di sekolahnya.
Lapangan hijau menjadi saksi bisu atas perjanjian 3 A (Aga, Anggi dan Agus) selepas meninggalkan benda berbentuk bundar.
”Eh, kamu dah siap belum dengan taruhan kita?” tanya Agus sambil mengusap-usap keringat di lehernya.
”Pasti donk...” jawab keduanya.
Akhirnya perjanjian itupun disepakati ketiganya. Air botol yang mereka pegang seakan menjadi kesaksian atas kesemangatan mereka dalam berebut hati Safira. Semula berawal dari penuturan Agus, ia bilang Safira sebagai gadis yang susah untuk diluluhkan hatinya. Sebenarnya Agus juga tidak terlalu meyakini gadis itu akan mudah didekati.
Karena Safira siswa yang menjunjung akademis berbeda dengan kebanyakan siswa lainnya. Dimana kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan masa-masa remaja. Rata-rata dari mereka baru berumur 17 tahun. Iapun mengajak kedua temannya untuk melakukan taruhan. Namun, Agus tidaklah sepopuler Aga. Dia hanya cukup punya paras OK, tapi kurang romantis. Lain halnya dengan Anggi, dia adalah atlit basket tapi sifat dia yang masih kekanak-kanakan menjadikan dia berulang kali diputusin oleh pacarnya.
Segala macam jurus telah mereka persiapkan untuk melakuan PDKT dengan Safira. Aga adalah sosok cowok yang punya segudang prestasi mulai dari ketua osis terbaik sampai dengan juara umum lomba cerdas cermat. Tapi dia sering mengecewakan banyak siswa putri di sekolahnya. Karena dia seperti memberi sebuah harapan kepada mereka untuk bisa menjadi pacarnya. Aga punya prinsip tidak akan ’Pacaran’ selama dia masih sekolah. Dengan adanya taruhan ini, dia merasa tertantang bahwa dia merasa siswa yang paling populer di sekolahnya. Tak ada yang berani menolak ketika dia meminta jadi pacarnya. Dia berfikir seribu kali untuk bisa mendekati Safira, karena selama ini walaupun mereka sering disatukan dalam lomba cerdas cermat, Safira tetap saja cuek kepadanya. Safira menganggap dia hanya sebagai rekan tim dalam memperoleh kemenangan dan membawa nama baik sekolahnya. Padahal banyak teman-teman Safira yang mencoba untuk menjodohkan mereka berdua. Safira hanya tersenyum manis menanggapi ocehan temen-temannya.

***

”Mathematic Competition merupakan kesempatan untuk bisa PDKT dengan Shafira.” gumamnya.
Ajang yang selalu membawa mereka untuk bekerjasama memperoleh kemenangan. Karena selama ini, keduanya memiliki kemampuan yang lebih cerdas daripada teman-temannya.
Paras nan ayu dan lesung pipit membawakan kesejukan kepada setiap orang yang melihatnya. ”Matematika untuk SMA” sebuah buku yang dipegangnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang yang sebenarnya selama ini didambakan oleh Safira. Perasaan yang bergejolak dalam hatinya kini kian terbendung melihat kekecewaan banyak siswa putri lain yang mengaguminya.
”Assalamu’alaikum...” ucapan lembut keluar dari bibirnya.
”Wa’alaikumussalam...” jawab Safira dengan nada gugup
Dengan basa-basi dia menanyakan kabar dan persiapan kompetesi penting yang akan mereka hadapi. Safira hanya menjawab datar tanpa ada respon yang di nginkan oleh siswa yang tidak terlalu jauh duduk di disampingnya.
”Oh iya, ada bimbingan matematika dengan pak Agung”
”Dimana dan jam berapa?”
”Jam 2 siang di ruangnya pak Agung.” Sambil melangkahkan kakinya menuju kekelas dengan sedikit rasa kecewa bahwa hari ini dia belum berhasil. Safira hanya bisa memandangi dia sampai tak terlihat wujudnya.
”Ya Allah, apakah ini yang dinamakan Cinta? Ketika dia jauh, aku merasa ingin bertemu dengannya, menyebut namanya, mengingat wajahnya dan masih banyak yang aku pikirkan tentang dia.” Safira merasa bimbang dengan perasaannya.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Safira melangkah menuju ruangan pak Agung. Disana terlihat Aga sedang berbincang-bincang dengan sosok guru yang menjadi idola seluruh siswa di sekolah ini. Bertubuh besar dan tinggi serta naluri kebapakan yang ada pada diri pak Agung sehingga beliau menjadi idola. Dua jam kita lalui untuk memperdalam materi matematika. Mungkin kebanyakan siswa merasa sulit dalam mepelajari matematika, berbeda dengan keduanya.
”Safira, ayo pulang bareng, ayah kamu tidak bisa menjemput kamu khan?”
”Safira tersontak kaget mendengar ucapan Aga, lho kamu ko’ bisa tau ayah tidak bisa jemput? Lagian aku mau naik angkutan saja.”
”Aku Cuma nebak aja ko’ jam segini khan sudah tidak angkutan lewat sini, ya udah mending kamu bareng aja sama aku. Kita khan satu arah, tenang aja Kasih, aku tidak akan macam-macam sama kamu. Percaya dech...
Wajah gadis itu berubah warna kemerah-merahan mendengar ucapan yang keluar spontan dari bibir Aga. Diluar sana Aga merasa grogi, dia berfikir kenapa bisa mengucapkan hal sekonyol itu. Aduh, pasti Safira marah. Safira berpikir sejenak.
”Ma...af” Sontak keduanya mengeluarkan kata yang sama.
”Maaf kalau ada ucapanku yang salah”
”Safira hanya tersenyum kecil menghiasi parasnya, maaf nanti aku ngrepotin kamu.”
”ga apa-apa.”
Tanpa berfikir kedua kalinya akhirnya Safira menerima tawaran Aga. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam kaku tanpa sepatah katapun. Padahal, keduanya ingin berbagi cerita. Sampai di rumah Safira, keduanya masih diselimuti keheningan.
”makasih yach.”
”sama-sama, aku langsung pulang, takut kesorean.”
Safira hanya mengangguk pelan dan terus memandangi motor bebek jenis Karisma X 125 CC yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dalam hatinya, sejuta kebahagiaan mengiringi langkahnya. Sama halnya dengan Aga, dia merasa mendapatkan bulan di siang bolong. Dia masih bingung terhadap perasaannya. Kenapa wajah Safira selalu melintas dalam benaknya.
”Ah, mungkin aku merasa bahagia karena sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan Safira dan tentu saja HP keluaran terbaru milik Anggi dan Agus.” gumamnya.

***

”Gimana kemajuan kalian mendekati Safira?” tanya Aga.
”Ketemu sama orangnya aja susah, apalagi PDKT sama dia.” gumam Anggi dengan mencibirkan bibirnya.
”Aku sudah memboncengkan Safira lho...”
”Apa??? Yang bener aja.”
”Ya bener donk, aku akan memenangkan taruhan ini. Buktinya, Safira mau bareng dengan aku. Lagian dia juga kayaknya suka sama aku. Jadi, aku tinggal nunggu waktu tuk bilang sayang sama dia.”
Agus dan Anggi hanya mencibir karena keduanya gagal dalam mendekati sang primadona sekolah. Apalagi HP keduanya terancam menghilang karena harus diserahkan ke Aga. Oh...betapa konyolnya semua ini.
Dua minggu Aga dan Safira selalu bersama, berawal dari bimbingan untuk kompetisi matematika sampai keduanya bisa saling berbagi. Dari hal menceritakan kepribadiannya masing-masing. Hal-hal yang disukai atau tidak. Segudang aktivitas yang dijalani seakan tak merasa kelelahan karena keduanya dibawa dalam lautan cinta. Mereka tak sadar, bahwa mereka saling menyukai. Hanya ego mereka yang mengalahkan rasa cinta yang sudah lama terpendam sejak mereka bertemu dalam Masa Orientasi Siswa (MOS). Ketika saat itu, Aga sebagai peserta putra terbaik dan Safira sebagai peserta putri terbaik.
Rumah hijau yang berukuran 10 X 12 meter dengan taman-taman yang menghiasi halaman depan membawakan sejuta keindahan. Rumah yang cukup sederhana, begitulah kesan terhadap rumah tersebut. Padahal penghuninya adalah salah seorang Pimpinan kantor perpajakan di sebuah kota besar. Dr. Indra Riyanto, S.E, M.Si, Akt adalah ayah Safira. Kehidupan yang cukup sederhana dengan mengutamakan pendidikan agama didalamnya sehingga menjadikan Safira dan adiknya yang bernama Azam mengetahui pemahaman agama yang memadai.
Tepatnya di hari minggu mereka berkumpul di halaman teras untuk menikmati pemandangan sekililingnya yang tak akan bosan melihat sekuntum teratai yang bertahan hidup di tengah-tengah air.
”Assalamu’alaikum...” terlihat sosok remaja cool dengan baju soft blue yang melekat di badannya menambah ketampanan, sehingga matahari tersipu malu melihat parasnya yang gagah.
”Wa’alaikumusalam...” jawab mereka kompak.
Setelah beberapa saat, kedua orang tua dan adik Safira meninggalkan teras. Keadaan ini membuat keduanya salah tingkah. Padahal sudah sehari semalam Aga mempersiapkan momentum besar ini. Dengan nada gugup Aga membuka percakapan.
”Oya, gimana persiapanmu untuk Mathematic Competition?”
”Aku sudah mempelajari materi yang akan diujikan sekitar 90%, tetap enjoy aja dech yang penting kita jalin kerjasama yang baik dan kesolidan tim kita, key!”
”Oh...pasti, ngomong-ngomong tehnya manis banget, wah pasti buatnya dicampur dengan bumbu cinta.”
Safira hanya tertunduk malu mendengar ucapan spontan yang keluar dari Aga. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Aga meminta ijin untuk pulang. Aga memberikan sebuat kaset untuk Safira bertuliskan ”Kaulah Bintangku...”, dalam hati Safira bertanya apa isi kaset itu. Dia melepaskan kepergian Aga dengan sejuta tanya.
Malam harinya, Safira mencoba memberanikan diri untuk mendengarkan kaset yang diberikan oleh Aga. Dengan hati yang bergejolak dengan rasa cinta dan sayang. Maklum, ini merupakan ”The First Love” bagi Safira. Diawali dengan lagu-lagu melankolis, dan saatnya ketika didalam kaset itu terdengar suara Aga

Ketika kau selalu acuh padaku
Betapa sakitnya hati ini
Tapi aku tahu bahwa suatu saat
Cinta itu hadir dalam hatimu
Namun kau hidup mengalir
Dalam pori-pori cinta dan semangatku
Sebab kaulah bintangku
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku...!
Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana
Tinggi menggapai surga...
(Salim A. Fillah, 2006:227)

Oh, betapa bahagianya Safira mendengar kata-kata cinta dari Aga. Seakan dia sedang bermimpi untuk mendapatkan seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Pikirannya melayang jauh di atas awan. Hanya ada kesunyian dan keheningan yang selalu setia menemani malam-malamnya. Dengan cepatnya Safira mengambil kaset kosong yang ada di atas meja belajarnya. Dan menjawab pernyataan cinta dari Aga lewat kaset tersebut. Awalnya Safira berfikir lama, apakah dia akan menerima ataukah tidak? Tapi perasaan cinta itu lebih besar daripada logikanya.
Di tempat yang lain, Aga memikirkan apakah perbuatan yang dilakukan akan menyakiti hati Safira. Dia khan tidak pernah menyakitiku, kenapa aku tega menyakitinya. Tapi semuanya sudah terlanjur, aku sudah membuat janji dengan temen-temenku. Ingin rasanya membatalkan perjanjian itu. Matanya semakin sayu, lelap dan tidur dalam mimpi.

***

Aga berusaha menjauh dari Safira karena ia tak tega menyakitinya. Safira merasa bingung dengan sikap Aga, lalu diberikannya kaset buat Aga melalui Anggi. Seusai pulang sekolah, ketiga siswa rupawan dengan perasaan cemas mendengarkan isi kaset tersebut. Ternyata, Safira juga sayang sama aku.
”Ya Allah, apa yang harus aku lakukan padahal selama ini aku hanya pura-pura suka padanya.” gumamnya dalam hati.
Setelah berfikir sejenak, Aga bermaksud menyudahi kebohongan besar ini. Ditemuinya Safira di taman sekolah. Safira merasa senang karena dia mendapatan cinta Aga. Aga mendekati Safira dan berkata dengan gugup...
”Maafkan aku...”
Safira tak mengerti maksud perkataan Aga. Dengan perasaan yang berat, akhirnya Aga mengungkapkan perihal dia menyukainya hanya karena kepuasan ego semata dan sebagai ajang taruhan.
Seketika itu, hati Safira hancur tercabik-cabik, kecewa dan sakit hati. Dia dijadikan sebagai ajang taruhan. Tapi Safira tak tinggal diam, dengan cepat Safira membalasnya dengan tegar sambil menahan airmata.
”Maafkan aku juga...selama ini aku tak pernah serius suka sama kamu, aku hanya menjadikanmu sebagai prestise semata. Ketika aku bisa mendapatkanmu maka kepopuleranku akan semakin meningkat.”
Aga kaget dengan mata yang melotot tajam bahwa Safira juga mempermainkanku. Keduanya hanya diam tak bisa berkata apapun, Safira tak bisa menahan tangis. Diapun pergi meninggalkan Aga tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba saatnya Mathematic Competition diadakan, pak Agung merasa heran karena keduanya hanya diam. Kompetisipun berjalan dengan baik, walaupun keduanya harus menahan perasaan dan harus bekerjasama secara profesional. Kemenangan diraih oleh mereka berdua, tapi mereka hanya tersenyum terpaksa karena hati yang galau.
Esok harinya ketika mereka akan mendapatkan penghargaan dari sekolah, Aga tecengang karena Safira tidak ada. Dia bingung harus bertanya pada siapa, setelah berbicara dengan Pak Agung, ternyata Safira pindah sekolah ke kota lain. Betapa hancur dan merasa kehilangan akan sosok Safira. Seusai pulang sekolah, dia memberanikan diri untuk menuju rumah Safira. Dan ternyata rumah sederhana itu telah kosong. Dia mencoba bertanya kepada tetangga dan hanya mendapat jawaban yang kurang memuaskan bahwa Safira dan keluarganya telah pindah ke luar kota. Sejak saat itu Aga merasakan sebuah penyesalan dan kekecewaan terhadap dirinya.
Kini hanya malam yang senantiasa menjaga tidur Aga. Matanya langsung menatap pada sebuah kaset dari Safira. Dia mendengarkan dengan perasaan haru dan menatap sepercik cahaya di atas awan. ”Kaulah Bintangku...” tetaplah bersinar dalam heningnya malam.

***

Sahabat...Kembalikan Senyumku

Sahabat...kembalikan senyumku

Ah...lagi-lagi aku teringat peristiwa itu, airmatapun jatuh tanpa disadari. Tepatnya hari Sabtu, 26 April 2008, sebuah momentum besar dalam hidupku.
”De, mba dah siap ayo berangkat bareng.”
Seorang gadis berusia 19 tahun yang berstatus mahasiswa semester 2 keluar dari kamarnya dengan memakai gaun biru...wach sungguh anggun gadis yang biasa di sapa ”Nurul”, berpawakan tinggi besar, hidung mancung ’n black sweet (hitam manis), dia adik kostku. ” Citra Lardiana Putri ” namaku, sebuah nama yang terukir cantik dalam balutan cinta. Aku duduk di semester 4 jurusan akuntansi. Greng...greng...bunyi motor yang siap melaju. Entah mengapa, pagi itu aku punya firasat yang kurang baik.
”Dah siap mba?” tanya Nurul.
”Yupz...”
Motorpun melaju dengan cukup cepat seperti para pembalap motor yang sedang betarung di area sirkuit.
”Mba, aku mo ambil kamera di Qonitat.”
Akupun hanya bengong menunggu gadis lincah itu masuk ke Qonitat (nama sebuah kost).
Kamerapun diambil, dengan cepat dia keluar dari pintu. Motorpun melaju kembali, kebetulan kita satu arah. Aku sebagai panitia wisuda Fakultas Ekonomi, sedangkan nurul sebagai panitia seminar muslimah yang diadakan oleh UKKI (Rohis Universitas).
***
”Aduh...kepalaku sakit banget, matapun tak bisa melihat dengan jelas. Hanya suara-suara ribut yang terdengar di teligaku.” batinku.
”Assalamu’alaikum...saudara adi, teman anda yang bernama Citra kecelakaan.” kata salah seorang warga. Dia berusaha menghubungi teman-teman aku.
”Maaf bu, sekarang saya lagi di Bandung.” jawab adi.
Ah...semakin aku bingung, kenapa warga menghubungi temen-temenku, aku masih tak sadar saat itu. Tak sengaja, mataku tertuju pada seorang gadis yang berlumuran darah.
”Nu...nu...nurul...ya Allah apa yang terjadi pada gadis itu.” Aku coba menenangkan diri. Pada saat itu pula, ada salah seorang warga yang berusaha memberikan segelas air putih untuk menyadarkan aku. Ternyata...
”Ya Allah, betapa sakitnya kepalaku dan terasa pusing.” batinku.
Aku baru sadar, ternyata aku dan nurul mengalami kecelakaan. Aku hanya bisa menangis dan merasa bahwa hidupku tak lama. Astaghfirullahal’adzim...aku hanya beristighfar dalam hati disertai tetesan air mata. Aku belum ikhlas ketika saat itu juga ruh aku dipisah dari jasadku. Disekitarku, warga merasa kebingungan tak tahu harus berbuat apa.
”Mba Aris...kepalaku sakit dan pusing.” keluh aku pada sesosok orang yang sudah aku kenal dekat. Mba Arispun mendekat dan seketika itupun aku dan nurul dibawa ke dokter ita di kawasan patemon. Warga begitu panik melihat keadaan kita berdua yang tak berdaya. Kitapun dibawa dengan memakai sebuah mobil yang melintas hendak menuju ke acara wisuda. Subhanallah...betapa mulianya orang tersebut. Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah senantiasa memberikan banyak keberkahan dalam hidupnya.
Dalam perjalanan aku terus merasa kesakitan disertai muntah-muntah. Temen-temen yang menemaniku didalam mobil mencoba menghubungi sanak saudara maupun teman-teman aku.
***
Sesampainya di tempat dokter ita, beliau tidak menanggung karena melihat keadaan kami yang cukup parah. Akhirnya kami dibawa ke rumah sakit karyadi semarang. Setibanya disana, kami langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Karyadi Semarang..
”Oh...apa yang akan terjadi setelah itu?”
Aku langsung diperiksa oleh beberapa dokter dan perawat yang sedang jaga. Aouw...aku merengek kesakitan, ternyata di tangan kananku di pasang infus. Pernapasan aku dibantu dengan tabung oksigen. Diluar sana, temen-temen kost dan yang lain merasa bingung serta panik. Subhanallah...mereka sungguh luar biasa memberikan perhatian kepada kami. Inilah sebuah ukhuwah yang begitu sangat kudambakan. Setelah beberapa menit diperiksa, akupun dibawa ke sebuah ruang radiologi untuk di rongsen. Di jalan temen-temen kost bercanda.
”Ukh...ada Pak Gery loh.” kata heni, temen kostku.
Aku hanya tersipu malu dan GRnya minta ampun. Pak Gery merupakan orang nomor satu di tingkat mahasiswa. Beliau adalah Presiden Mahasiswa, orangnya bijak, masalah tampang cukuplah (astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa hamba). Setelah masuk di ruang radiologi, Alhamduilllah aku tidak mengalami luka yang parah, hanya terkena beberapa benturan keras. Berhubung aku belum mendapatkan ruang inap, aku kembali ditempatkan di ruang UGD.
Terlihat beberapa sosok wanita yang raut mukanya memperlihatkan kesedihan sehingga kecantikannya tertutupi. Mereka adalah Niswah, Fenti, Ika, Esen dan Dian. Sahabat dan saudara yang selama ini selalu bersama aku ketika kuliah maupun kegiatan. Dan ikut merasakan ketika aku dalam keadaan sedih maupun senang. Kita kelihatan selalu bersama-sama walaupun terkadang ada perbedaan sedikit. Namun itu semua dijadikan sebuah keindahan dalam menjalin persahabatan dan ukhuwah ini.
”Rumah sakit aja ngantri?” batinku.
Disampingku terlihat Nurul yang merasa kesakitan juga. Dia mengalami luka-luka yang cukup parah, tulang hidungnya patah serta giginya tanggal empat. Astaghfirullahal’adzim...sungguh tragis. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis. Terbesit sebuah penyesalan kenapa tidak aku saja yang didepan, kenapa dan kenapa. ”Mungkin ketika aku yang didepan, tidak akan terjadi kecelakaan seperti ini.” keluh aku.
Sudahlah...ikhlaskan semua ini, ini adalah ujian kepada hamba-Nya. Jika kamu sabar dalam menghadapinya, maka Allah akan meninggikan derajat keimananmu. Subhanallah ada kelembutan yang menyirami hatiku melalui kata-kata indah itu. Tak tahu siapa yang mengatakannya, tapi aku yakin itu benar.
” Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (Q.S Al-Insyirah : 6)
***
Suara handphoneku terus berbunyi, baik dari saudara aku yang di rumah maupun di Jakarta serta temen-temenku yang ingin mengetahui keadaan aku seperti apa. Di rumah sakit temen-temenku berdatangan. Mereka masuk satu persatu untuk melihat keadaanku, aku berusaha menahan tangis. Ketika personil ”Bintang Group (nama sebuah kost)” menjenguk aku, wah ada sebuah kesejukkan...why? karena ada ”Arif”. Dia adalah salah seorang temenku yang kocak abiz.
”Eh...ntar kalian dimarahi lho sama dokter.”
”Gampanglah...dokternya lum ada ko.” sahut Arif.
Setelah beberapa saat kita bergurau, ada sosok lelaki berpawakan tinggi besar dengan pakaian putih yang melekat dibadannya masuk ruang UGD.
”Gimana sich mba, saya khan sudang bilang, jangan ganggu pasien!” tegas dokter pada mba Aris.
Aku hanya tersenyum manis melihat ocehan dan tingah laku dokter itu. Seketika para personil ”Bintang Group” sontak keluar dari UGD. Sampai diluar ruangan, mereka malah ketawa geli. Tiba saatnya solat dhuhur, aku hanya bisa bertayamum dan melakukan sholat dengan berbaring.Ya Allah...betapa banyak nikmat yang Kau berikan kepada hamba-Mu ini.
Terlihat sosok pria bertubuh besar, hidung mancung dan memakai jas hitam. Wouw...keren banget. Ternyata Pak Kusmuriyanto, dosen waliku di kampus. Beliau menyempatkan waktunya untuk menjengukku. Aku hanya bisa berbicara pelan. Beliau menasihati dan mendo’akanku.
***
Jam sudah menunjukkan 16.30, aku baru bisa mendapatkan ruang inap. Seketika itupun aku dipindahkan keruang tersebut. Betapa malunya ketika saat aku dipindahkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Di situ hanya ada mas iparku, mba Aris, Pak Saiful, akh dona. Banyak sekali temen-temen berdatangan untuk menjenguk aku, dari ketua rohis UKKI beserta jajarannya. Temen-temen ekonomi, subhanallah mereka sayang banget sama aku. Wah... jadi GR abiz. Terlihat empat sosok wanita cantik-cantk mendekati aku, ternyata mereka adalah dosenku. Betapa bahagianya aku...
Mentari mulai tertutup awan, malampun kian menyapa sebuah kehangatan batinku. Datanglah sebuah bapak setengah baya membawa sepiring bubur dengan lauknya. Oh...aku harus dipaksa makan bubur. Tapi aku tidak nafsu makan. Malam itu, aku ditemani oleh mba lili, mba lina dan suci. Begitulah cinta mereka yang ditunjukkan kepadaku. Semoga Allah senantiasa mendekatkan keimannya kepada-Mu. Aku tak bisa tidur, yang kurasa hanya kesakitan dan bingung dalam mengambil posisi tidur. Teringat sebuah pesan dari dokter untuk membangunkanku setiap dua jam sekali. Membuat suci dan temen-temen mungkin seperti satpam yang menjaga sang putri yang tidur dan kelelahan dalam tangis. Jam terus berputar seolah tak mau memberi kesempatan kepada orang yang belum bisa memanfaatkan harinya dengan baik. Oh...jam menunjukkan pukul 12 malam, mba lili dan temen-temen yang lainpun membangunkan ketenangan tidurku.
” De, bangun dulu yach...”
Dengan perasaan berat, akupun terbangun dari mimpi panjang yang melenakan. Beliau bercerita tentang kisah seorang istri nabi muhammad yang bernama ” Shafiyah ”. Hampir 20 menit dia bercerita panjang lebar mengenai Sofiyah, bagaimana beliau bisa menikah dengan Rosulullah, bagaimana sifatnya dan banyak hal lain yang ada pada dirinya. Dari kisah tersebut, ada banyak hikmah yang dipetik untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
***
Mentari dengan malu-malunya menyunggingkan senyumnya menyambut kicauan burung-burung yang menari-nari di atas awan. Pagi itu terasa sunyi, kesedihan kembali muncul. Hanya ada sosok berpawakan kecil dan hitam manis yang selalu menemaniku. Dia adalah mba aris, kakak tingkatku di kampus biru. Sesungguhnya masih banyak orang-orang yang lebih besar ujiannya daripada aku. Tiba-tiba muncul sesosok wanita dengan raut muka yang sudah keliatan keriput, senyum dan kesedihan bercampur jadi satu.
” Anakku...” teriak seorang wanita sambil kedua tangannya memeluk erat diriku dengan penuh kelembutan.
” Ma... ma...ma...” akupun terbata-bata dan menangis dalam pelukannya dengan menahan sakit dikepalaku. Alhamdulillah, ibu dan saudara laki-lakiku datang menjengukku. Betapa ada rasa kesejukkan yang masuk dalam hatiku. Beliaupun menasehatiku agar tetap bersabar dan selalu mendekatkan diri pada-Nya. Aku ingin bersenandung buat Ibunda tercinta seperti alunan nada indah ini.
Cinta dan tulus pancaran kasih dan sayangmu
Tunaikan amanah Tuhan
Sucinya baktimu
Kesal tiada kau rasa tuk menggapai cahaya cinta
Menempa putra tercinta
Harapan agama...
Wahai ibunda dengarkanlah
Senandung jiwa penuh makna
Beribu kalbu hapus duka lara
Wujud cintaku padamu Ibunda
(Justice Voice, Ibunda)
”Assalamu’alaikum...” terdengar suara laki-laki di balik pintu
” Wa’alaikumussalam... ” jawab kita serentak
Ternyata dibalik pintu yang hanya berukuran kurang lebih 1 X 3 M terlihat dua laki-laki dengan tampang gagah. Mereka adalah temenku waktu sekolah. Eros dan Tino namanya. Setelah beberapa saat, muncul laki-laki dan wanita yang mendekat ke ruanganku. Mereka adalah Meta dan Rudi, temen sekolah juga.
” Wah, pertemuan ini kayak ajang reuni sekolah. ” gumamku.
” Iya, sudah 2 tahun lho kita tidak ketemu ” kata eros.
” ya udah, habis lebaran kita ngumpul-ngumpul yach? ” pinta meta
Sekitar 20 menit mereka menemaniku, mereka meminta ijin pulang. Setelah beberapa saat, ada 8 laki-laki dengan paras yang cukup cool dengan jaket hitam yang melekat. Bisa dibilang identitas seorang aktivis selalu berjaket, setuju ga? Merekapun masuk keruangan. Aku merasa malu dan bahagia karena perhatian mereka kepada teman seperjuangan di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) begitu besarnya.
***
Tak terasa sudah dua hari aku di rawat. Betapa mudahnya orang mengeluarkan uang sebesar itu hanyak untuk mendapatkan kesehatan. Subhanallah...betapa besar nikmat sehat-Mu. Terkadang masih banyak orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat tersebut. Lamunanku hilang ketika ada beberapa teman kost yang menjengukku kembali. Canda tawa seketika menghilangkan sejenak rasa sakitku. Mereka membawakan sebuah tas dan ketika aku lihat isinya, tenyata segala perlengkapan kecantikan seperti bedak, hand body dan parfum. Dengan cepat endang dan teman-teman memainkan jarinya dengan licah mengambil perlengkapan tersebut untuk dioleskan ke wajah dan tanganku. Setelah selesai, mereka ijin untuk menjenguk nurul di ruang lain. Aku hanya bisa menitipkan salam dan rinduku untuk dirinya.
Aku hanya termenung pagi itu. Sosok berputih mengejutkan, oh ternyata beliau adalah asisten dokter Eric, dokter yang menanganiku dirumah sakit. Beliau memberikan kepastian bahwa hari ini aku bisa pulang. Aku senang sekali ketika mendengar kabar tersebut. Ah, lagi-lagi aku dikecewakan dengan omongan beliau. Sampai jam 12 siang, dokter eric belum juga datang. Aku dan keluarga hanya diberi janji tanpa kepastian. Ketika itu tepat jam 1, dokter Eric yang kutunggu-tunggu muncul memperlihatkan wajahnya (jujur yach kayak bukan dokter aja) memberikan instruksi kepada aku untuk menutup salah satu mata dan menebak pertanyaan beliau. Akhirnya beliau memutuskan aku boleh pulang hari itu juga.
Langit begitu cerah dengan mentari yang mengintip dari balik awan. Ketika mentari itu muncul bunga-bungapun merasa malu karena kecantikannya dikalahkan oleh sang mentari. Aku terbangun dengan kesejukkan hati, aku berdzikir memanjatkan do’a kepada-Nya. Tak sadar aku sudah berada di dalam rumah yang selama ini aku lahir dan dibesarkan dalam surga cinta.
Kulangkahkan kakiku dengan Bismillah...semoga hari ini dan hari-hari yang akan datang begitu indah. Aku berharap akan menjadi seorang muslim yang lebih baik dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukkan, keceriaan dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Menjadi Muslim adalah putih di hat, merah muda di kata, dan warna-warni dalam laku. (Salim A. Fillah, 2006:1)
Untuk semua sahabatku, maaf dan terima atas segala support dan perhatiannya. Semoga keikhlasan dan kelembutan hanya untuk mencapai ridho-Nya. Senandung lagu untuk semua sahabatku...kembalikan senyumku.
Sahabat...temani diriku saat kuterluka
Akhirkan banyak masalah dan aral yang melintang
Akankah kita selalu bersama
Sahabat walaupun jarak yang memisahkan kita
Kuberharap jalinan dan kasih kan utuh selamanya
Akankah semua kuat sedia
Tercipta untuk kita hingga akhir masa...
(Justice Voice, Sahabat)


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Bumi Allah, 10 Juni 2008
Citra Lardiana Putri

Kaulah Cintaku...

Kaulah Cintaku…
Aku termenung ketika melihat sebuah foto berukuran 3 R, terlihat seorang gadis manis dengan lesung pipit membuat dia semakin menawan. Dia membawa boneka kucing kesayangannya. Sesaat aku memperhatikan parasnya. “Kaulah Cintaku” sebuah tulisan yang tertoreh dibelakangnya. Mengalirkan ingatanku pada sesosok gadis yang pernah singgah dalam hatiku. Aku segera membersihkan debu-debu yang melekat, sudah 3 tahun aku tidak pernah membuka barang-barang berharga yang tersimpan di sebuah rak khusus.
“Kak Aga”
Suara adikku yang bernama reza memecahkan kesepianku, aku hanya tersenyum padanya sambil memegang barang yang aku rapikan. Parasnya membuat seseorang tak akan pernah bosan memandangnya karena dia mempunyai aura yang luar biasa.
“Ada apa de?”
“Cuma ingin ngobrol sama kakak, wah ini foto pacar kakak yach?”
Secepat kilat aku merebut foto yang dipegang reza. Aku tidak ingin reza mengetahui siapa yang ada di foto itu. Semua ini sudah berakhir dan hanya akan menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Aku harus bisa melupakan gadis yang telah menyakitiku. Dan aku telah berjanji bahwa cinta yang hakiki adalah hanya untuk-Nya.
“Bukan ko’ dik, ini teman kakak waktu SMA.”
“Kita maen PS bareng kakak yuk, kak aga ingin mengalahkan kamu dik.”
Akhirnya kita asyik memainkan jari-jari dalam perlombaan Go Kart untuk bisa menjadi pemenang. Kita saling mengejar, reza sangat menikmati permainan ini. Dia berusaha ingin menjadi yang terbaik. Tiba-tiba Hpku bergetar, terlihat sebuah SMS masuk dari akh Anggi.
“Aslm akh, mengundang antum sore ini jam 15.45 WIB untuk syuro’ di sekretariat Al Ikhlas dengan agenda bulan ramadhan, bulan penuh cinta. Tetep semangat!!!”
Jam sudah menunjukkan 15.00 WIB, akupun menyudahi permainan itu dengan kekalahan mutlak. Aku harus mengakui bahwa dari dulu reza memang lebih cepat dan cerdas dalam permainan ini. Sesaat adzan berkumandang, aku mengajak reza untuk sholat berjama’ah di masjid. Langkahku terasa berbeda ketika aku menuju kampus. Hidup dan matiku hanyalah untuk-Nya, dakwah ini memang panjang dan terdapat banyak kerikil yang menghadangnya, karena kita akan sampai pada jannah-Nya bersama orang-orang yang berjuang untuk menegakkan islam di bumi tercinta ini.” Itulah kata-kata salah seorang temanku sebagai motivasi untuk tetap istiqomah.
***
Bangunan yang cukup sempurna dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an menambah keindahan dan kesejukkan ketika bersujud untuk bermunajah kepada-Nya. Suasana kampus terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa mahasiswa yang hilir mudik melakukan aktivitas untuk memenuhi amanah yang ada di tangan mereka. Tidak dapat dipungkiri lebih dari 70% mahasiswa yang kuliah di kampus ini sebagai mahasiswa study oriented. Mereka hanya hidup di 4P yaitu kos, kampung, kampus dan kantin. Hidup mereka hanya mengalir seperti air dimana tidak ada tujuan hidup yang jelas. Mungkin mereka berpikir bahwa intelektual adalah segala-galanya untuk mendapatkan kesuksesan. Kecerdasan intelektual juga harus didukung dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan emosional dapat kita peroleh melalui sebuah organisasi agar kita dapat meningkatkan skill dan mengembangkan bakat serta potensi pada diri kita.
“Assalamu’alaikum Akh…”
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh…”
Sesampainya di sekretariat Rohis Al Ikhlas hanya ada 2 sosok ikhwan berpawakan tinggi dengan tubuh atletik, berparas putih dan ada aura semangat yang mengalir pada wajahnya. Adnan dan Dimas, nama keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB saatnya syuro’ ini dimulai. Tapi, di pelangi dakwah (secretariat rohis) tercinta ini hanya ada 2 ikhwan dan 1 akhwat. Aku tak asing ketika mendengar suaranya saat dia mengucapkan salam. Aku hanya mengira-ngira siapa akhwat dibalik hijab tersebut. Seakan mengingatkan kembali suara manja dari shafira. Gadis impian yang hanya bisa menjadi kenangan yang akan aku kubur selamanya.
“Astaghfirullah…” segera aku menepis bayangan gadis berlesung pipit. Akhwat dibalik hijab itu hanya terdiam menunggu teman-teman yang lain. Sesaat dia menanyakan kapan syuro’ ini dimulai. Aku hanya menjawab ketika kita siap, baiklah dimulai. Kita bertiga menumbuhkan budaya awal waktu pada diri kader. Ternyata banyak kader yang belum faham akan pentingnya indibat (disiplin.red) pada segala aktivitas yang mereka jalani. Kesuksesan dalam menumbuhkan nilai-nilai islam di kampus yang tercinta ini sesusngguhnya dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun. Azam dan komitmen kader yang hanya bisa terucap melalui bibir mereka tanpa mengaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-sehari. Setelah beberapa saat ada suara akhwat yang mengucapkan salam. Mereka lebih dari satu orang, mungkin sekitar 4 orang. Akhirnya syuro’ dimulai dengan bacaan basmallah bersama, dilanjutkan dengan taujih rabbani yang artinya :
”Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S At-taubah:41)
Subhanallah…ketika dibacakan ayat tersebut hatiku terasa bergetar, merasakan kebesaran Allah akan nikmatnya dakwah ini dan kesungguhan dalam menanamkan nilai-nilai islam yang kaffah (menyeluruh.red). Aku memberikan sedikit taujih tentang pentingnya militansi bagi seorang aktivis dakwah..
Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?
Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.
Itulah sedikit taujih dari ana, semoga hal ini bisa memberikan sebuah pengingatan untuk ana pribadi dan untuk akhi wa ukhti fillah. Syukron Jazakumullah Khoiron Katsiron
***
Kita mulai membahas rencana kegiatan untuk menyambut bulan ramadhan. Adnan terpilih menjadi ketua dari serangkaian kegiatan bulan ramadhan di kampus tercinta ini. Kegiatan di bulan ramadhan ini rencananya akan diawali dengan Tabligh Akbar, Spiritual Journey Training, Gebyar Seni Islami, dan lain sebagainya. Kegiatan besar ini membutuhkan komitmen yang kuat serta orang-orang yang militan.
“Akh Angga dan ukhti Dinda, antum jadi penanggung jawab (PJ) sie acara dan kreatif.”
Tiba-tiba adnan menunjuk aku, mereka memberikan kepercayaan mengenai konsep acara kepadaku. Tapi aku masih bingung siapakah sosok akhwat yang bernama dinda? Selama 2 tahun aku di fakultas ini, belum ada akhwat yang bernama dinda. Apakah dia mahasiswa semester 3, ah itu tidak mungkin! Lagian serangkaian di bulan ramadhan ini, panitia intinya adalah mahasiswa semester 5. Aku ingin menanyakan dinda kepada adnan, tapi aku tepis rasa itu karena aku merasa malu.
“Afwan akh…ana punya usul, gimana kalo pas Gebyar Seni Islami, kita menampilkan kelompok nasyid dari rohis kita. “
Terdengar suara akhwat dari balik hijab, suaranya cukup lugas dan tegas. Apakah dinda yang berbicara? Oh…ternyata suara itu milik dinda. Itu terbukti dari ucapan adnan ketika menanggapi usul dari dia. Adnan menyerahkan semua konsep acara kepada kita.
”afwan akh, ana minta nomornya ukhti dinda.”
085226100688, aku simpan nomor itu dengan nama ukh dinda. Jam sudah menunjukkan 17.30 WIB, syuro’ diakhiri dengan membawa sebuah misi jihad untuk keberhasilan agenda penting ini. Aku segera pulang ke rumah, melepaskan semua kepenatanku setelah beraktivitas seharian.
Malampun menyapa dengan sinar rembulan yang mengintip dari belakang jendela. Kerlipan bintang yang malu-malu memperlihatkan keindahan sinarnya. Subhanallah…penciptaan yang Maha Suci sungguh begitu luar biasa. Aku merebahkan tubuhku, melepaskan beban yang ada dipundakku, sesaat aku terngiang masa laluku yang cukup jahiliyah. Walaupun aku dibesarkan dalam nuansa islam, aku menjadi sosok remaja yang cukup tampan, populer dengan segudang prestasi dan menjadi idola siswi-siswi di sekolahku. Maklum, aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Sebelum aku memejamkan mata, aku mengambil wudhu dan bermunajah kepada-Nya. Karena dengan hidayah-Nya, aku bisa menikmati indahnya iman dan islam serta bingkai ukhuwah yang tak ternilai harganya.
Mentari mulai bersinar, aku segera mempersiapkan semua agendaku hari ini, salah satunya untuk berkoordinasi dengan dinda. Walaupun hari ini merupakan hari pertama puasa di bulan ramadhan, tapi harapannya tidak menjadikan sebuah halangan untuk beraktivitas seperti biasanya. Aku sudah membuat janji untuk koordinasi di sekretariat Rohis Al Ikhlas. Di pertengahan jalan menuju sekretariat, aku melihat sosok akhwat yang berjilbab lebar dengan berjalan cukup cepat. Akhirnya aku mendahului akhwat tersebut, pelangi dakwah masih sepi. Mungkin dinda belum datang, aku menyempatkan diri untuk membaca buku yang aku pegang, ‘Risalah Dakwah Kampus’ itulah judul buku yang aku baca. Subhanallah…buku yang penting dibaca untuk para aktivis dakwah, bahasanya yang kritis tentang perkembangan dakwah kampus yang akan merubah sebuah peradaban yang lebih baik lagi.
“Assalamu’alaikum…”
Terdengar salam dari balik hijab, ternyata dinda. Akhirnya dia datang juga. Kita memulai diskusi membahas serangkaian acara di bulan ramadhan. Aku merasa kaku dan gugup ketika berbicara dengan dia. Padahal aku belum mengenal siapa dia. Siapakah dinda sebenarnya, kenapa aku merasa sudah lama kenal dengan dia. Kujauhkan perasaan itu, aku harus fokus untuk membahas ini.
“Afwan akh…bisa dipercepat tidak, ana ada kuliah jam 8.”
“Ya, ini sudah mau selesai ko. Ana juga ada kuliah jam 8. Sebelum mengakhiri diskusi ini, ana memberanikan diri untuk bertanya kepada dinda.
“Afwan ukh, antum mahasiswa baru dikampus ini yach?”
“Iya.ana kuliah dulu, Assalamu’alaikum.”
Itulah jawaban yang cukup singkat, padat dan jelas. Padahal aku membutuhkan jawaban yang lebih daripada itu. Aku segera keluar meninggalkan pelangi dakwah menuju suatu laboratorium yang cukup representative untuk para mahasiswa melakukan suatu eksperimen dalam menggali suatu potensi maupun kecerdasan intelektualnya untuk bisa meraih prestasi yang luar biasa.
***
“Shafira Adinda Putri” seorang pria berkumis tebal, tinggi tapi dengan postur tubuh kecil, berkacamata agak kebawah layaknya seorang professor memanggil nama tersebut. Pak Rusli, nama panggilan beliau. Dosen paruh baya itu dengan bangga menerima mahasiswa baru pindahan dari bandung yang memilik segudang prestasi. Beliau memperkenalkan gadis berjilbab besar kepada mahasiswa yang lain dengan tujuan agar temen-temen bisa termotivasi dengan prestasi yang dinda dapatkan selama menjadi mahasiswa di bandung. Dengan PDnya gadis tersebut melangkahkan kakinya menuju depan kelas. Aku masih terkejut mendengar sebuah nama yang disebut oleh dosen yang terkenal kiler itu. aku langsung menundukkan pandangan dan berpikir, apakah dia adalah Shafira yang pernah aku kenal dulu?
Gadis tersebut mulai memperkenalkan namanya dan menceritakan berbagai pengalamannya seperti seorang motivator yang handal. Sementara aku, aku hanya bisa menundukkan pandangan tak berani menatap wajahnya secara langsung. Aku yakin, dia adalah shafira. Gadis yang mempunyai lesung pipit itu kini didepanku. Tiba-tiba tatapan mataku dan gadis jilbaber tersebut satu arah. Secepat kilat aku langsung membuang wajahku. Gadis itu terdiam, mungkin dia berfikir bahwa pria yang didepannya adalah orang yang pernah menyakiti hatinya. Akhirnya dia mengakhiri perkenalan ini. Kegiatan perkuliahan berlangsung seperti biasa, aku ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini dan segera menanyakan siapa dinda rekan kerja aku. Jam perkuliahan sudah berakhir, aku segera keluar. Ketika di jalan, aku bertemu dengan adnan dan aku langsung to the point.
“Ana mo tanya, nama panjang dinda siapa?”
“Shafira Adinda Putri, emang ada apa?”
Syukron, aku langsung meninggalkan adnan yang masih menunggu jawaban dariku. Aku merasa bingung harus menghadapi Shafira seperti apa. Aku termenung sejenak. Shafira adalah gadis yang pernah aku cintai dan aku sakiti, ketika SMA aku pernah menjadikannya sebagai bahan taruhan antara aku dan teman-temanku. Dia adalah gadis pujaan setiap siswa di sekolah, Shafira anak yang petiang, cerdas, tajir dan dermawan. “Kaulah Cintaku” itulah kata-kata gombal yang pernah aku rekam dan kemudian diberikan kepada Shafira sebagai tanda aku suka dia. Singkat waktu, aku jadian dengannya. Awalnya aku menjalani status ini layaknya air yang mengalir. Aku tidak tega melihat gadis yang tak pernah berbuat salah kepadaku, tapi aku telah menyakiti perasaannya. Akhirnya, aku jujur mengatakan semua yang aku perbuat kepadanya. Betapa kagetnya ketika dia mengatakan hal yang sama, ternyata dia menjadikan aku sebagai pacarnya karena aku seorang ketua OSIS dan itu berarti dia lebih unggul dari siswi-siswi lainnya. Aku merasa disakiti oleh kata-katanya. Sudah 3 tahun lamanya, aku tidak bertemu dengan Shafira. Semenjak peristiwa itu, dia langsung pindah dengan kedua orang tuanya tanpa memberitahu siapapun.
HPku bergetar menyadarkan lamunanku. Terlihat satu pesan masuk dari ukhti dinda. Segera aku membuka isi pesan dinda.
“Aslm…semoga hati-hati ini tetap dalam keridhoan cinta-Nya. Afwan apakah antum ini Angga Wiyoga?” ana ingin mentabayunkan peristiwa 3 tahun silam, ana tunggu di Pelangi Dakwah besok jam 6 pagi. Syukron…
Aku kaget membaca pesan dari Shafira, hari ini aku tidak ada agenda. Akupun membalas sms Shafira
“Waslm…Insya Allah ana bisa. Pesan tersebut langsung dikirim ke Shafira.
Malamnya aku bermunajah kepada Allah dalam sujud syukur atas anugerah yang nyata. Betapa Allah mengasihi hamba-hambanya yang senantiasa berada di jalan dakwah. Ya Rabb, aku memohon ampunan atas segala kebodohan yang aku perbuat di masa lalu. Allah adalah sandaran tempat mengadu dan memohon pertolongan tempat menentramkan kekhawatiran akan masa depan karena Dia adalah Mahatahu. Jadikan bulan ramadhan ini penuh berkah dan ampunan-Mu.
Esok harinya, di pelangi dakwah sudah ada Shafira, diapun hanya terdiam tak kuasa untuk membuka percakapan yang selama ini tak pernah ada. Akhirnya aku mengawali percakapan ini.
“Afwan ukh, 3 tahun silam ana pernah menyakiti hati anti, di bulan ramadhan yang penuh ampunan dan barakah ini mohon ikhlaskan segala salah dan khilaf yang dulu ana pernah perbuat. Jujur, ana dulu hanya terobsesi mendapatkan anti karena taruhan dan ketika anti pindah ke luar kota. Ana sadar, ana sempat mencintai anti yang tak semestinya itu dilakukan. Tapi itu dulu, sekarang ana ingin benar-benar ingin berdakwah di kampus ini dengan mencintai sang penggenggam hati, sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Afwan akh, ana juga minta maaf atas semua kekhilafan yang ana katakan dari lidah yang tak bertulang ini. Masa lalu biarkan berlalu, kita tatap dakwah ini semakin proggress dengan kader-kader yang militan. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum besar untuk berjihad di jalan-Nya dengan bingkaian ukhuwah yang indah.
Kata-kata dari Shafira begitu mendamaikan hatiku. Allah telah menghadirkan seorang mujahidah Islam baru di kampus ini. Pejuang yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam di kampus yang makin gersang ini. Dengan semangat dan azam yang kuat dalam dirinya untuk berkontribusi dalam menegakkan kalimatullah di kampus ini. Semoga Allah menjadikan hubungan antara aku dan Shafira sebagai hubungan yang suci. Bukan hubungan seperti dulu, yang menyalahartikan makna cinta yang hakiki dan menggantinya dengan cinta semu. Kini kami sadar bahwa cinta yang sempurna dan hakiki hanyalah untuk Allah semata. “Kaulah Cintaku ya Allah…”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, besatu dalam rangka menyeru (dakwah) di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela pertalianmu, maka kuatkanlah pertaliannya, ya Alla, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lampangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.

Bumi Allah, 10 September 2008

Citra Lardiana Putri


BIODATA PENULIS :
Nama : Citra Lardiana Putri
NIM : 7250406010
Jurusan/Fak : Akuntansi/Ekonomi
Kost : Pesantren Basmala “Khodijah Binti Khuwailid” Gg Cempaka Sari III
CP : 085697459045

Kaulah Cintaku…
Aku termenung ketika melihat sebuah foto berukuran 3 R, terlihat seorang gadis manis dengan lesung pipit membuat dia semakin menawan. Dia membawa boneka kucing kesayangannya. Sesaat aku memperhatikan parasnya. “Kaulah Cintaku” sebuah tulisan yang tertoreh dibelakangnya. Mengalirkan ingatanku pada sesosok gadis yang pernah singgah dalam hatiku. Aku segera membersihkan debu-debu yang melekat, sudah 3 tahun aku tidak pernah membuka barang-barang berharga yang tersimpan di sebuah rak khusus.
“Kak Aga”
Suara adikku yang bernama reza memecahkan kesepianku, aku hanya tersenyum padanya sambil memegang barang yang aku rapikan. Parasnya membuat seseorang tak akan pernah bosan memandangnya karena dia mempunyai aura yang luar biasa.
“Ada apa de?”
“Cuma ingin ngobrol sama kakak, wah ini foto pacar kakak yach?”
Secepat kilat aku merebut foto yang dipegang reza. Aku tidak ingin reza mengetahui siapa yang ada di foto itu. Semua ini sudah berakhir dan hanya akan menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Aku harus bisa melupakan gadis yang telah menyakitiku. Dan aku telah berjanji bahwa cinta yang hakiki adalah hanya untuk-Nya.
“Bukan ko’ dik, ini teman kakak waktu SMA.”
“Kita maen PS bareng kakak yuk, kak aga ingin mengalahkan kamu dik.”
Akhirnya kita asyik memainkan jari-jari dalam perlombaan Go Kart untuk bisa menjadi pemenang. Kita saling mengejar, reza sangat menikmati permainan ini. Dia berusaha ingin menjadi yang terbaik. Tiba-tiba Hpku bergetar, terlihat sebuah SMS masuk dari akh Anggi.
“Aslm akh, mengundang antum sore ini jam 15.45 WIB untuk syuro’ di sekretariat Al Ikhlas dengan agenda bulan ramadhan, bulan penuh cinta. Tetep semangat!!!”
Jam sudah menunjukkan 15.00 WIB, akupun menyudahi permainan itu dengan kekalahan mutlak. Aku harus mengakui bahwa dari dulu reza memang lebih cepat dan cerdas dalam permainan ini. Sesaat adzan berkumandang, aku mengajak reza untuk sholat berjama’ah di masjid. Langkahku terasa berbeda ketika aku menuju kampus. Hidup dan matiku hanyalah untuk-Nya, dakwah ini memang panjang dan terdapat banyak kerikil yang menghadangnya, karena kita akan sampai pada jannah-Nya bersama orang-orang yang berjuang untuk menegakkan islam di bumi tercinta ini.” Itulah kata-kata salah seorang temanku sebagai motivasi untuk tetap istiqomah.
***
Bangunan yang cukup sempurna dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an menambah keindahan dan kesejukkan ketika bersujud untuk bermunajah kepada-Nya. Suasana kampus terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa mahasiswa yang hilir mudik melakukan aktivitas untuk memenuhi amanah yang ada di tangan mereka. Tidak dapat dipungkiri lebih dari 70% mahasiswa yang kuliah di kampus ini sebagai mahasiswa study oriented. Mereka hanya hidup di 4P yaitu kos, kampung, kampus dan kantin. Hidup mereka hanya mengalir seperti air dimana tidak ada tujuan hidup yang jelas. Mungkin mereka berpikir bahwa intelektual adalah segala-galanya untuk mendapatkan kesuksesan. Kecerdasan intelektual juga harus didukung dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan emosional dapat kita peroleh melalui sebuah organisasi agar kita dapat meningkatkan skill dan mengembangkan bakat serta potensi pada diri kita.
“Assalamu’alaikum Akh…”
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh…”
Sesampainya di sekretariat Rohis Al Ikhlas hanya ada 2 sosok ikhwan berpawakan tinggi dengan tubuh atletik, berparas putih dan ada aura semangat yang mengalir pada wajahnya. Adnan dan Dimas, nama keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB saatnya syuro’ ini dimulai. Tapi, di pelangi dakwah (secretariat rohis) tercinta ini hanya ada 2 ikhwan dan 1 akhwat. Aku tak asing ketika mendengar suaranya saat dia mengucapkan salam. Aku hanya mengira-ngira siapa akhwat dibalik hijab tersebut. Seakan mengingatkan kembali suara manja dari shafira. Gadis impian yang hanya bisa menjadi kenangan yang akan aku kubur selamanya.
“Astaghfirullah…” segera aku menepis bayangan gadis berlesung pipit. Akhwat dibalik hijab itu hanya terdiam menunggu teman-teman yang lain. Sesaat dia menanyakan kapan syuro’ ini dimulai. Aku hanya menjawab ketika kita siap, baiklah dimulai. Kita bertiga menumbuhkan budaya awal waktu pada diri kader. Ternyata banyak kader yang belum faham akan pentingnya indibat (disiplin.red) pada segala aktivitas yang mereka jalani. Kesuksesan dalam menumbuhkan nilai-nilai islam di kampus yang tercinta ini sesusngguhnya dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun. Azam dan komitmen kader yang hanya bisa terucap melalui bibir mereka tanpa mengaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-sehari. Setelah beberapa saat ada suara akhwat yang mengucapkan salam. Mereka lebih dari satu orang, mungkin sekitar 4 orang. Akhirnya syuro’ dimulai dengan bacaan basmallah bersama, dilanjutkan dengan taujih rabbani yang artinya :
”Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S At-taubah:41)
Subhanallah…ketika dibacakan ayat tersebut hatiku terasa bergetar, merasakan kebesaran Allah akan nikmatnya dakwah ini dan kesungguhan dalam menanamkan nilai-nilai islam yang kaffah (menyeluruh.red). Aku memberikan sedikit taujih tentang pentingnya militansi bagi seorang aktivis dakwah..
Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?
Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.
Itulah sedikit taujih dari ana, semoga hal ini bisa memberikan sebuah pengingatan untuk ana pribadi dan untuk akhi wa ukhti fillah. Syukron Jazakumullah Khoiron Katsiron
***
Kita mulai membahas rencana kegiatan untuk menyambut bulan ramadhan. Adnan terpilih menjadi ketua dari serangkaian kegiatan bulan ramadhan di kampus tercinta ini. Kegiatan di bulan ramadhan ini rencananya akan diawali dengan Tabligh Akbar, Spiritual Journey Training, Gebyar Seni Islami, dan lain sebagainya. Kegiatan besar ini membutuhkan komitmen yang kuat serta orang-orang yang militan.
“Akh Angga dan ukhti Dinda, antum jadi penanggung jawab (PJ) sie acara dan kreatif.”
Tiba-tiba adnan menunjuk aku, mereka memberikan kepercayaan mengenai konsep acara kepadaku. Tapi aku masih bingung siapakah sosok akhwat yang bernama dinda? Selama 2 tahun aku di fakultas ini, belum ada akhwat yang bernama dinda. Apakah dia mahasiswa semester 3, ah itu tidak mungkin! Lagian serangkaian di bulan ramadhan ini, panitia intinya adalah mahasiswa semester 5. Aku ingin menanyakan dinda kepada adnan, tapi aku tepis rasa itu karena aku merasa malu.
“Afwan akh…ana punya usul, gimana kalo pas Gebyar Seni Islami, kita menampilkan kelompok nasyid dari rohis kita. “
Terdengar suara akhwat dari balik hijab, suaranya cukup lugas dan tegas. Apakah dinda yang berbicara? Oh…ternyata suara itu milik dinda. Itu terbukti dari ucapan adnan ketika menanggapi usul dari dia. Adnan menyerahkan semua konsep acara kepada kita.
”afwan akh, ana minta nomornya ukhti dinda.”
085226100688, aku simpan nomor itu dengan nama ukh dinda. Jam sudah menunjukkan 17.30 WIB, syuro’ diakhiri dengan membawa sebuah misi jihad untuk keberhasilan agenda penting ini. Aku segera pulang ke rumah, melepaskan semua kepenatanku setelah beraktivitas seharian.
Malampun menyapa dengan sinar rembulan yang mengintip dari belakang jendela. Kerlipan bintang yang malu-malu memperlihatkan keindahan sinarnya. Subhanallah…penciptaan yang Maha Suci sungguh begitu luar biasa. Aku merebahkan tubuhku, melepaskan beban yang ada dipundakku, sesaat aku terngiang masa laluku yang cukup jahiliyah. Walaupun aku dibesarkan dalam nuansa islam, aku menjadi sosok remaja yang cukup tampan, populer dengan segudang prestasi dan menjadi idola siswi-siswi di sekolahku. Maklum, aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Sebelum aku memejamkan mata, aku mengambil wudhu dan bermunajah kepada-Nya. Karena dengan hidayah-Nya, aku bisa menikmati indahnya iman dan islam serta bingkai ukhuwah yang tak ternilai harganya.
Mentari mulai bersinar, aku segera mempersiapkan semua agendaku hari ini, salah satunya untuk berkoordinasi dengan dinda. Walaupun hari ini merupakan hari pertama puasa di bulan ramadhan, tapi harapannya tidak menjadikan sebuah halangan untuk beraktivitas seperti biasanya. Aku sudah membuat janji untuk koordinasi di sekretariat Rohis Al Ikhlas. Di pertengahan jalan menuju sekretariat, aku melihat sosok akhwat yang berjilbab lebar dengan berjalan cukup cepat. Akhirnya aku mendahului akhwat tersebut, pelangi dakwah masih sepi. Mungkin dinda belum datang, aku menyempatkan diri untuk membaca buku yang aku pegang, ‘Risalah Dakwah Kampus’ itulah judul buku yang aku baca. Subhanallah…buku yang penting dibaca untuk para aktivis dakwah, bahasanya yang kritis tentang perkembangan dakwah kampus yang akan merubah sebuah peradaban yang lebih baik lagi.
“Assalamu’alaikum…”
Terdengar salam dari balik hijab, ternyata dinda. Akhirnya dia datang juga. Kita memulai diskusi membahas serangkaian acara di bulan ramadhan. Aku merasa kaku dan gugup ketika berbicara dengan dia. Padahal aku belum mengenal siapa dia. Siapakah dinda sebenarnya, kenapa aku merasa sudah lama kenal dengan dia. Kujauhkan perasaan itu, aku harus fokus untuk membahas ini.
“Afwan akh…bisa dipercepat tidak, ana ada kuliah jam 8.”
“Ya, ini sudah mau selesai ko. Ana juga ada kuliah jam 8. Sebelum mengakhiri diskusi ini, ana memberanikan diri untuk bertanya kepada dinda.
“Afwan ukh, antum mahasiswa baru dikampus ini yach?”
“Iya.ana kuliah dulu, Assalamu’alaikum.”
Itulah jawaban yang cukup singkat, padat dan jelas. Padahal aku membutuhkan jawaban yang lebih daripada itu. Aku segera keluar meninggalkan pelangi dakwah menuju suatu laboratorium yang cukup representative untuk para mahasiswa melakukan suatu eksperimen dalam menggali suatu potensi maupun kecerdasan intelektualnya untuk bisa meraih prestasi yang luar biasa.
***
“Shafira Adinda Putri” seorang pria berkumis tebal, tinggi tapi dengan postur tubuh kecil, berkacamata agak kebawah layaknya seorang professor memanggil nama tersebut. Pak Rusli, nama panggilan beliau. Dosen paruh baya itu dengan bangga menerima mahasiswa baru pindahan dari bandung yang memilik segudang prestasi. Beliau memperkenalkan gadis berjilbab besar kepada mahasiswa yang lain dengan tujuan agar temen-temen bisa termotivasi dengan prestasi yang dinda dapatkan selama menjadi mahasiswa di bandung. Dengan PDnya gadis tersebut melangkahkan kakinya menuju depan kelas. Aku masih terkejut mendengar sebuah nama yang disebut oleh dosen yang terkenal kiler itu. aku langsung menundukkan pandangan dan berpikir, apakah dia adalah Shafira yang pernah aku kenal dulu?
Gadis tersebut mulai memperkenalkan namanya dan menceritakan berbagai pengalamannya seperti seorang motivator yang handal. Sementara aku, aku hanya bisa menundukkan pandangan tak berani menatap wajahnya secara langsung. Aku yakin, dia adalah shafira. Gadis yang mempunyai lesung pipit itu kini didepanku. Tiba-tiba tatapan mataku dan gadis jilbaber tersebut satu arah. Secepat kilat aku langsung membuang wajahku. Gadis itu terdiam, mungkin dia berfikir bahwa pria yang didepannya adalah orang yang pernah menyakiti hatinya. Akhirnya dia mengakhiri perkenalan ini. Kegiatan perkuliahan berlangsung seperti biasa, aku ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini dan segera menanyakan siapa dinda rekan kerja aku. Jam perkuliahan sudah berakhir, aku segera keluar. Ketika di jalan, aku bertemu dengan adnan dan aku langsung to the point.
“Ana mo tanya, nama panjang dinda siapa?”
“Shafira Adinda Putri, emang ada apa?”
Syukron, aku langsung meninggalkan adnan yang masih menunggu jawaban dariku. Aku merasa bingung harus menghadapi Shafira seperti apa. Aku termenung sejenak. Shafira adalah gadis yang pernah aku cintai dan aku sakiti, ketika SMA aku pernah menjadikannya sebagai bahan taruhan antara aku dan teman-temanku. Dia adalah gadis pujaan setiap siswa di sekolah, Shafira anak yang petiang, cerdas, tajir dan dermawan. “Kaulah Cintaku” itulah kata-kata gombal yang pernah aku rekam dan kemudian diberikan kepada Shafira sebagai tanda aku suka dia. Singkat waktu, aku jadian dengannya. Awalnya aku menjalani status ini layaknya air yang mengalir. Aku tidak tega melihat gadis yang tak pernah berbuat salah kepadaku, tapi aku telah menyakiti perasaannya. Akhirnya, aku jujur mengatakan semua yang aku perbuat kepadanya. Betapa kagetnya ketika dia mengatakan hal yang sama, ternyata dia menjadikan aku sebagai pacarnya karena aku seorang ketua OSIS dan itu berarti dia lebih unggul dari siswi-siswi lainnya. Aku merasa disakiti oleh kata-katanya. Sudah 3 tahun lamanya, aku tidak bertemu dengan Shafira. Semenjak peristiwa itu, dia langsung pindah dengan kedua orang tuanya tanpa memberitahu siapapun.
HPku bergetar menyadarkan lamunanku. Terlihat satu pesan masuk dari ukhti dinda. Segera aku membuka isi pesan dinda.
“Aslm…semoga hati-hati ini tetap dalam keridhoan cinta-Nya. Afwan apakah antum ini Angga Wiyoga?” ana ingin mentabayunkan peristiwa 3 tahun silam, ana tunggu di Pelangi Dakwah besok jam 6 pagi. Syukron…
Aku kaget membaca pesan dari Shafira, hari ini aku tidak ada agenda. Akupun membalas sms Shafira
“Waslm…Insya Allah ana bisa. Pesan tersebut langsung dikirim ke Shafira.
Malamnya aku bermunajah kepada Allah dalam sujud syukur atas anugerah yang nyata. Betapa Allah mengasihi hamba-hambanya yang senantiasa berada di jalan dakwah. Ya Rabb, aku memohon ampunan atas segala kebodohan yang aku perbuat di masa lalu. Allah adalah sandaran tempat mengadu dan memohon pertolongan tempat menentramkan kekhawatiran akan masa depan karena Dia adalah Mahatahu. Jadikan bulan ramadhan ini penuh berkah dan ampunan-Mu.
Esok harinya, di pelangi dakwah sudah ada Shafira, diapun hanya terdiam tak kuasa untuk membuka percakapan yang selama ini tak pernah ada. Akhirnya aku mengawali percakapan ini.
“Afwan ukh, 3 tahun silam ana pernah menyakiti hati anti, di bulan ramadhan yang penuh ampunan dan barakah ini mohon ikhlaskan segala salah dan khilaf yang dulu ana pernah perbuat. Jujur, ana dulu hanya terobsesi mendapatkan anti karena taruhan dan ketika anti pindah ke luar kota. Ana sadar, ana sempat mencintai anti yang tak semestinya itu dilakukan. Tapi itu dulu, sekarang ana ingin benar-benar ingin berdakwah di kampus ini dengan mencintai sang penggenggam hati, sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Afwan akh, ana juga minta maaf atas semua kekhilafan yang ana katakan dari lidah yang tak bertulang ini. Masa lalu biarkan berlalu, kita tatap dakwah ini semakin proggress dengan kader-kader yang militan. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum besar untuk berjihad di jalan-Nya dengan bingkaian ukhuwah yang indah.
Kata-kata dari Shafira begitu mendamaikan hatiku. Allah telah menghadirkan seorang mujahidah Islam baru di kampus ini. Pejuang yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam di kampus yang makin gersang ini. Dengan semangat dan azam yang kuat dalam dirinya untuk berkontribusi dalam menegakkan kalimatullah di kampus ini. Semoga Allah menjadikan hubungan antara aku dan Shafira sebagai hubungan yang suci. Bukan hubungan seperti dulu, yang menyalahartikan makna cinta yang hakiki dan menggantinya dengan cinta semu. Kini kami sadar bahwa cinta yang sempurna dan hakiki hanyalah untuk Allah semata. “Kaulah Cintaku ya Allah…”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, besatu dalam rangka menyeru (dakwah) di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela pertalianmu, maka kuatkanlah pertaliannya, ya Alla, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lampangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.

Bumi Allah, 10 September 2008

Citra Lardiana Putri


BIODATA PENULIS :
Nama : Citra Lardiana Putri
NIM : 7250406010
Jurusan/Fak : Akuntansi/Ekonomi
Kost : Pesantren Basmala “Khodijah Binti Khuwailid” Gg Cempaka Sari III
CP : 085697459045

Sabtu, 30 Agustus 2008

akhwat smart

Aslm...salam ukhuwah, tetep semangat n freshkan kembali hati kita untuk menyambut bulan suci ramadhan.