Jumat, 12 September 2008

Kaulah Cintaku...

Kaulah Cintaku…
Aku termenung ketika melihat sebuah foto berukuran 3 R, terlihat seorang gadis manis dengan lesung pipit membuat dia semakin menawan. Dia membawa boneka kucing kesayangannya. Sesaat aku memperhatikan parasnya. “Kaulah Cintaku” sebuah tulisan yang tertoreh dibelakangnya. Mengalirkan ingatanku pada sesosok gadis yang pernah singgah dalam hatiku. Aku segera membersihkan debu-debu yang melekat, sudah 3 tahun aku tidak pernah membuka barang-barang berharga yang tersimpan di sebuah rak khusus.
“Kak Aga”
Suara adikku yang bernama reza memecahkan kesepianku, aku hanya tersenyum padanya sambil memegang barang yang aku rapikan. Parasnya membuat seseorang tak akan pernah bosan memandangnya karena dia mempunyai aura yang luar biasa.
“Ada apa de?”
“Cuma ingin ngobrol sama kakak, wah ini foto pacar kakak yach?”
Secepat kilat aku merebut foto yang dipegang reza. Aku tidak ingin reza mengetahui siapa yang ada di foto itu. Semua ini sudah berakhir dan hanya akan menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Aku harus bisa melupakan gadis yang telah menyakitiku. Dan aku telah berjanji bahwa cinta yang hakiki adalah hanya untuk-Nya.
“Bukan ko’ dik, ini teman kakak waktu SMA.”
“Kita maen PS bareng kakak yuk, kak aga ingin mengalahkan kamu dik.”
Akhirnya kita asyik memainkan jari-jari dalam perlombaan Go Kart untuk bisa menjadi pemenang. Kita saling mengejar, reza sangat menikmati permainan ini. Dia berusaha ingin menjadi yang terbaik. Tiba-tiba Hpku bergetar, terlihat sebuah SMS masuk dari akh Anggi.
“Aslm akh, mengundang antum sore ini jam 15.45 WIB untuk syuro’ di sekretariat Al Ikhlas dengan agenda bulan ramadhan, bulan penuh cinta. Tetep semangat!!!”
Jam sudah menunjukkan 15.00 WIB, akupun menyudahi permainan itu dengan kekalahan mutlak. Aku harus mengakui bahwa dari dulu reza memang lebih cepat dan cerdas dalam permainan ini. Sesaat adzan berkumandang, aku mengajak reza untuk sholat berjama’ah di masjid. Langkahku terasa berbeda ketika aku menuju kampus. Hidup dan matiku hanyalah untuk-Nya, dakwah ini memang panjang dan terdapat banyak kerikil yang menghadangnya, karena kita akan sampai pada jannah-Nya bersama orang-orang yang berjuang untuk menegakkan islam di bumi tercinta ini.” Itulah kata-kata salah seorang temanku sebagai motivasi untuk tetap istiqomah.
***
Bangunan yang cukup sempurna dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an menambah keindahan dan kesejukkan ketika bersujud untuk bermunajah kepada-Nya. Suasana kampus terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa mahasiswa yang hilir mudik melakukan aktivitas untuk memenuhi amanah yang ada di tangan mereka. Tidak dapat dipungkiri lebih dari 70% mahasiswa yang kuliah di kampus ini sebagai mahasiswa study oriented. Mereka hanya hidup di 4P yaitu kos, kampung, kampus dan kantin. Hidup mereka hanya mengalir seperti air dimana tidak ada tujuan hidup yang jelas. Mungkin mereka berpikir bahwa intelektual adalah segala-galanya untuk mendapatkan kesuksesan. Kecerdasan intelektual juga harus didukung dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan emosional dapat kita peroleh melalui sebuah organisasi agar kita dapat meningkatkan skill dan mengembangkan bakat serta potensi pada diri kita.
“Assalamu’alaikum Akh…”
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh…”
Sesampainya di sekretariat Rohis Al Ikhlas hanya ada 2 sosok ikhwan berpawakan tinggi dengan tubuh atletik, berparas putih dan ada aura semangat yang mengalir pada wajahnya. Adnan dan Dimas, nama keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB saatnya syuro’ ini dimulai. Tapi, di pelangi dakwah (secretariat rohis) tercinta ini hanya ada 2 ikhwan dan 1 akhwat. Aku tak asing ketika mendengar suaranya saat dia mengucapkan salam. Aku hanya mengira-ngira siapa akhwat dibalik hijab tersebut. Seakan mengingatkan kembali suara manja dari shafira. Gadis impian yang hanya bisa menjadi kenangan yang akan aku kubur selamanya.
“Astaghfirullah…” segera aku menepis bayangan gadis berlesung pipit. Akhwat dibalik hijab itu hanya terdiam menunggu teman-teman yang lain. Sesaat dia menanyakan kapan syuro’ ini dimulai. Aku hanya menjawab ketika kita siap, baiklah dimulai. Kita bertiga menumbuhkan budaya awal waktu pada diri kader. Ternyata banyak kader yang belum faham akan pentingnya indibat (disiplin.red) pada segala aktivitas yang mereka jalani. Kesuksesan dalam menumbuhkan nilai-nilai islam di kampus yang tercinta ini sesusngguhnya dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun. Azam dan komitmen kader yang hanya bisa terucap melalui bibir mereka tanpa mengaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-sehari. Setelah beberapa saat ada suara akhwat yang mengucapkan salam. Mereka lebih dari satu orang, mungkin sekitar 4 orang. Akhirnya syuro’ dimulai dengan bacaan basmallah bersama, dilanjutkan dengan taujih rabbani yang artinya :
”Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S At-taubah:41)
Subhanallah…ketika dibacakan ayat tersebut hatiku terasa bergetar, merasakan kebesaran Allah akan nikmatnya dakwah ini dan kesungguhan dalam menanamkan nilai-nilai islam yang kaffah (menyeluruh.red). Aku memberikan sedikit taujih tentang pentingnya militansi bagi seorang aktivis dakwah..
Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?
Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.
Itulah sedikit taujih dari ana, semoga hal ini bisa memberikan sebuah pengingatan untuk ana pribadi dan untuk akhi wa ukhti fillah. Syukron Jazakumullah Khoiron Katsiron
***
Kita mulai membahas rencana kegiatan untuk menyambut bulan ramadhan. Adnan terpilih menjadi ketua dari serangkaian kegiatan bulan ramadhan di kampus tercinta ini. Kegiatan di bulan ramadhan ini rencananya akan diawali dengan Tabligh Akbar, Spiritual Journey Training, Gebyar Seni Islami, dan lain sebagainya. Kegiatan besar ini membutuhkan komitmen yang kuat serta orang-orang yang militan.
“Akh Angga dan ukhti Dinda, antum jadi penanggung jawab (PJ) sie acara dan kreatif.”
Tiba-tiba adnan menunjuk aku, mereka memberikan kepercayaan mengenai konsep acara kepadaku. Tapi aku masih bingung siapakah sosok akhwat yang bernama dinda? Selama 2 tahun aku di fakultas ini, belum ada akhwat yang bernama dinda. Apakah dia mahasiswa semester 3, ah itu tidak mungkin! Lagian serangkaian di bulan ramadhan ini, panitia intinya adalah mahasiswa semester 5. Aku ingin menanyakan dinda kepada adnan, tapi aku tepis rasa itu karena aku merasa malu.
“Afwan akh…ana punya usul, gimana kalo pas Gebyar Seni Islami, kita menampilkan kelompok nasyid dari rohis kita. “
Terdengar suara akhwat dari balik hijab, suaranya cukup lugas dan tegas. Apakah dinda yang berbicara? Oh…ternyata suara itu milik dinda. Itu terbukti dari ucapan adnan ketika menanggapi usul dari dia. Adnan menyerahkan semua konsep acara kepada kita.
”afwan akh, ana minta nomornya ukhti dinda.”
085226100688, aku simpan nomor itu dengan nama ukh dinda. Jam sudah menunjukkan 17.30 WIB, syuro’ diakhiri dengan membawa sebuah misi jihad untuk keberhasilan agenda penting ini. Aku segera pulang ke rumah, melepaskan semua kepenatanku setelah beraktivitas seharian.
Malampun menyapa dengan sinar rembulan yang mengintip dari belakang jendela. Kerlipan bintang yang malu-malu memperlihatkan keindahan sinarnya. Subhanallah…penciptaan yang Maha Suci sungguh begitu luar biasa. Aku merebahkan tubuhku, melepaskan beban yang ada dipundakku, sesaat aku terngiang masa laluku yang cukup jahiliyah. Walaupun aku dibesarkan dalam nuansa islam, aku menjadi sosok remaja yang cukup tampan, populer dengan segudang prestasi dan menjadi idola siswi-siswi di sekolahku. Maklum, aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Sebelum aku memejamkan mata, aku mengambil wudhu dan bermunajah kepada-Nya. Karena dengan hidayah-Nya, aku bisa menikmati indahnya iman dan islam serta bingkai ukhuwah yang tak ternilai harganya.
Mentari mulai bersinar, aku segera mempersiapkan semua agendaku hari ini, salah satunya untuk berkoordinasi dengan dinda. Walaupun hari ini merupakan hari pertama puasa di bulan ramadhan, tapi harapannya tidak menjadikan sebuah halangan untuk beraktivitas seperti biasanya. Aku sudah membuat janji untuk koordinasi di sekretariat Rohis Al Ikhlas. Di pertengahan jalan menuju sekretariat, aku melihat sosok akhwat yang berjilbab lebar dengan berjalan cukup cepat. Akhirnya aku mendahului akhwat tersebut, pelangi dakwah masih sepi. Mungkin dinda belum datang, aku menyempatkan diri untuk membaca buku yang aku pegang, ‘Risalah Dakwah Kampus’ itulah judul buku yang aku baca. Subhanallah…buku yang penting dibaca untuk para aktivis dakwah, bahasanya yang kritis tentang perkembangan dakwah kampus yang akan merubah sebuah peradaban yang lebih baik lagi.
“Assalamu’alaikum…”
Terdengar salam dari balik hijab, ternyata dinda. Akhirnya dia datang juga. Kita memulai diskusi membahas serangkaian acara di bulan ramadhan. Aku merasa kaku dan gugup ketika berbicara dengan dia. Padahal aku belum mengenal siapa dia. Siapakah dinda sebenarnya, kenapa aku merasa sudah lama kenal dengan dia. Kujauhkan perasaan itu, aku harus fokus untuk membahas ini.
“Afwan akh…bisa dipercepat tidak, ana ada kuliah jam 8.”
“Ya, ini sudah mau selesai ko. Ana juga ada kuliah jam 8. Sebelum mengakhiri diskusi ini, ana memberanikan diri untuk bertanya kepada dinda.
“Afwan ukh, antum mahasiswa baru dikampus ini yach?”
“Iya.ana kuliah dulu, Assalamu’alaikum.”
Itulah jawaban yang cukup singkat, padat dan jelas. Padahal aku membutuhkan jawaban yang lebih daripada itu. Aku segera keluar meninggalkan pelangi dakwah menuju suatu laboratorium yang cukup representative untuk para mahasiswa melakukan suatu eksperimen dalam menggali suatu potensi maupun kecerdasan intelektualnya untuk bisa meraih prestasi yang luar biasa.
***
“Shafira Adinda Putri” seorang pria berkumis tebal, tinggi tapi dengan postur tubuh kecil, berkacamata agak kebawah layaknya seorang professor memanggil nama tersebut. Pak Rusli, nama panggilan beliau. Dosen paruh baya itu dengan bangga menerima mahasiswa baru pindahan dari bandung yang memilik segudang prestasi. Beliau memperkenalkan gadis berjilbab besar kepada mahasiswa yang lain dengan tujuan agar temen-temen bisa termotivasi dengan prestasi yang dinda dapatkan selama menjadi mahasiswa di bandung. Dengan PDnya gadis tersebut melangkahkan kakinya menuju depan kelas. Aku masih terkejut mendengar sebuah nama yang disebut oleh dosen yang terkenal kiler itu. aku langsung menundukkan pandangan dan berpikir, apakah dia adalah Shafira yang pernah aku kenal dulu?
Gadis tersebut mulai memperkenalkan namanya dan menceritakan berbagai pengalamannya seperti seorang motivator yang handal. Sementara aku, aku hanya bisa menundukkan pandangan tak berani menatap wajahnya secara langsung. Aku yakin, dia adalah shafira. Gadis yang mempunyai lesung pipit itu kini didepanku. Tiba-tiba tatapan mataku dan gadis jilbaber tersebut satu arah. Secepat kilat aku langsung membuang wajahku. Gadis itu terdiam, mungkin dia berfikir bahwa pria yang didepannya adalah orang yang pernah menyakiti hatinya. Akhirnya dia mengakhiri perkenalan ini. Kegiatan perkuliahan berlangsung seperti biasa, aku ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini dan segera menanyakan siapa dinda rekan kerja aku. Jam perkuliahan sudah berakhir, aku segera keluar. Ketika di jalan, aku bertemu dengan adnan dan aku langsung to the point.
“Ana mo tanya, nama panjang dinda siapa?”
“Shafira Adinda Putri, emang ada apa?”
Syukron, aku langsung meninggalkan adnan yang masih menunggu jawaban dariku. Aku merasa bingung harus menghadapi Shafira seperti apa. Aku termenung sejenak. Shafira adalah gadis yang pernah aku cintai dan aku sakiti, ketika SMA aku pernah menjadikannya sebagai bahan taruhan antara aku dan teman-temanku. Dia adalah gadis pujaan setiap siswa di sekolah, Shafira anak yang petiang, cerdas, tajir dan dermawan. “Kaulah Cintaku” itulah kata-kata gombal yang pernah aku rekam dan kemudian diberikan kepada Shafira sebagai tanda aku suka dia. Singkat waktu, aku jadian dengannya. Awalnya aku menjalani status ini layaknya air yang mengalir. Aku tidak tega melihat gadis yang tak pernah berbuat salah kepadaku, tapi aku telah menyakiti perasaannya. Akhirnya, aku jujur mengatakan semua yang aku perbuat kepadanya. Betapa kagetnya ketika dia mengatakan hal yang sama, ternyata dia menjadikan aku sebagai pacarnya karena aku seorang ketua OSIS dan itu berarti dia lebih unggul dari siswi-siswi lainnya. Aku merasa disakiti oleh kata-katanya. Sudah 3 tahun lamanya, aku tidak bertemu dengan Shafira. Semenjak peristiwa itu, dia langsung pindah dengan kedua orang tuanya tanpa memberitahu siapapun.
HPku bergetar menyadarkan lamunanku. Terlihat satu pesan masuk dari ukhti dinda. Segera aku membuka isi pesan dinda.
“Aslm…semoga hati-hati ini tetap dalam keridhoan cinta-Nya. Afwan apakah antum ini Angga Wiyoga?” ana ingin mentabayunkan peristiwa 3 tahun silam, ana tunggu di Pelangi Dakwah besok jam 6 pagi. Syukron…
Aku kaget membaca pesan dari Shafira, hari ini aku tidak ada agenda. Akupun membalas sms Shafira
“Waslm…Insya Allah ana bisa. Pesan tersebut langsung dikirim ke Shafira.
Malamnya aku bermunajah kepada Allah dalam sujud syukur atas anugerah yang nyata. Betapa Allah mengasihi hamba-hambanya yang senantiasa berada di jalan dakwah. Ya Rabb, aku memohon ampunan atas segala kebodohan yang aku perbuat di masa lalu. Allah adalah sandaran tempat mengadu dan memohon pertolongan tempat menentramkan kekhawatiran akan masa depan karena Dia adalah Mahatahu. Jadikan bulan ramadhan ini penuh berkah dan ampunan-Mu.
Esok harinya, di pelangi dakwah sudah ada Shafira, diapun hanya terdiam tak kuasa untuk membuka percakapan yang selama ini tak pernah ada. Akhirnya aku mengawali percakapan ini.
“Afwan ukh, 3 tahun silam ana pernah menyakiti hati anti, di bulan ramadhan yang penuh ampunan dan barakah ini mohon ikhlaskan segala salah dan khilaf yang dulu ana pernah perbuat. Jujur, ana dulu hanya terobsesi mendapatkan anti karena taruhan dan ketika anti pindah ke luar kota. Ana sadar, ana sempat mencintai anti yang tak semestinya itu dilakukan. Tapi itu dulu, sekarang ana ingin benar-benar ingin berdakwah di kampus ini dengan mencintai sang penggenggam hati, sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Afwan akh, ana juga minta maaf atas semua kekhilafan yang ana katakan dari lidah yang tak bertulang ini. Masa lalu biarkan berlalu, kita tatap dakwah ini semakin proggress dengan kader-kader yang militan. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum besar untuk berjihad di jalan-Nya dengan bingkaian ukhuwah yang indah.
Kata-kata dari Shafira begitu mendamaikan hatiku. Allah telah menghadirkan seorang mujahidah Islam baru di kampus ini. Pejuang yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam di kampus yang makin gersang ini. Dengan semangat dan azam yang kuat dalam dirinya untuk berkontribusi dalam menegakkan kalimatullah di kampus ini. Semoga Allah menjadikan hubungan antara aku dan Shafira sebagai hubungan yang suci. Bukan hubungan seperti dulu, yang menyalahartikan makna cinta yang hakiki dan menggantinya dengan cinta semu. Kini kami sadar bahwa cinta yang sempurna dan hakiki hanyalah untuk Allah semata. “Kaulah Cintaku ya Allah…”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, besatu dalam rangka menyeru (dakwah) di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela pertalianmu, maka kuatkanlah pertaliannya, ya Alla, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lampangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.

Bumi Allah, 10 September 2008

Citra Lardiana Putri


BIODATA PENULIS :
Nama : Citra Lardiana Putri
NIM : 7250406010
Jurusan/Fak : Akuntansi/Ekonomi
Kost : Pesantren Basmala “Khodijah Binti Khuwailid” Gg Cempaka Sari III
CP : 085697459045

Kaulah Cintaku…
Aku termenung ketika melihat sebuah foto berukuran 3 R, terlihat seorang gadis manis dengan lesung pipit membuat dia semakin menawan. Dia membawa boneka kucing kesayangannya. Sesaat aku memperhatikan parasnya. “Kaulah Cintaku” sebuah tulisan yang tertoreh dibelakangnya. Mengalirkan ingatanku pada sesosok gadis yang pernah singgah dalam hatiku. Aku segera membersihkan debu-debu yang melekat, sudah 3 tahun aku tidak pernah membuka barang-barang berharga yang tersimpan di sebuah rak khusus.
“Kak Aga”
Suara adikku yang bernama reza memecahkan kesepianku, aku hanya tersenyum padanya sambil memegang barang yang aku rapikan. Parasnya membuat seseorang tak akan pernah bosan memandangnya karena dia mempunyai aura yang luar biasa.
“Ada apa de?”
“Cuma ingin ngobrol sama kakak, wah ini foto pacar kakak yach?”
Secepat kilat aku merebut foto yang dipegang reza. Aku tidak ingin reza mengetahui siapa yang ada di foto itu. Semua ini sudah berakhir dan hanya akan menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Aku harus bisa melupakan gadis yang telah menyakitiku. Dan aku telah berjanji bahwa cinta yang hakiki adalah hanya untuk-Nya.
“Bukan ko’ dik, ini teman kakak waktu SMA.”
“Kita maen PS bareng kakak yuk, kak aga ingin mengalahkan kamu dik.”
Akhirnya kita asyik memainkan jari-jari dalam perlombaan Go Kart untuk bisa menjadi pemenang. Kita saling mengejar, reza sangat menikmati permainan ini. Dia berusaha ingin menjadi yang terbaik. Tiba-tiba Hpku bergetar, terlihat sebuah SMS masuk dari akh Anggi.
“Aslm akh, mengundang antum sore ini jam 15.45 WIB untuk syuro’ di sekretariat Al Ikhlas dengan agenda bulan ramadhan, bulan penuh cinta. Tetep semangat!!!”
Jam sudah menunjukkan 15.00 WIB, akupun menyudahi permainan itu dengan kekalahan mutlak. Aku harus mengakui bahwa dari dulu reza memang lebih cepat dan cerdas dalam permainan ini. Sesaat adzan berkumandang, aku mengajak reza untuk sholat berjama’ah di masjid. Langkahku terasa berbeda ketika aku menuju kampus. Hidup dan matiku hanyalah untuk-Nya, dakwah ini memang panjang dan terdapat banyak kerikil yang menghadangnya, karena kita akan sampai pada jannah-Nya bersama orang-orang yang berjuang untuk menegakkan islam di bumi tercinta ini.” Itulah kata-kata salah seorang temanku sebagai motivasi untuk tetap istiqomah.
***
Bangunan yang cukup sempurna dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an menambah keindahan dan kesejukkan ketika bersujud untuk bermunajah kepada-Nya. Suasana kampus terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa mahasiswa yang hilir mudik melakukan aktivitas untuk memenuhi amanah yang ada di tangan mereka. Tidak dapat dipungkiri lebih dari 70% mahasiswa yang kuliah di kampus ini sebagai mahasiswa study oriented. Mereka hanya hidup di 4P yaitu kos, kampung, kampus dan kantin. Hidup mereka hanya mengalir seperti air dimana tidak ada tujuan hidup yang jelas. Mungkin mereka berpikir bahwa intelektual adalah segala-galanya untuk mendapatkan kesuksesan. Kecerdasan intelektual juga harus didukung dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan emosional dapat kita peroleh melalui sebuah organisasi agar kita dapat meningkatkan skill dan mengembangkan bakat serta potensi pada diri kita.
“Assalamu’alaikum Akh…”
“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh…”
Sesampainya di sekretariat Rohis Al Ikhlas hanya ada 2 sosok ikhwan berpawakan tinggi dengan tubuh atletik, berparas putih dan ada aura semangat yang mengalir pada wajahnya. Adnan dan Dimas, nama keduanya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB saatnya syuro’ ini dimulai. Tapi, di pelangi dakwah (secretariat rohis) tercinta ini hanya ada 2 ikhwan dan 1 akhwat. Aku tak asing ketika mendengar suaranya saat dia mengucapkan salam. Aku hanya mengira-ngira siapa akhwat dibalik hijab tersebut. Seakan mengingatkan kembali suara manja dari shafira. Gadis impian yang hanya bisa menjadi kenangan yang akan aku kubur selamanya.
“Astaghfirullah…” segera aku menepis bayangan gadis berlesung pipit. Akhwat dibalik hijab itu hanya terdiam menunggu teman-teman yang lain. Sesaat dia menanyakan kapan syuro’ ini dimulai. Aku hanya menjawab ketika kita siap, baiklah dimulai. Kita bertiga menumbuhkan budaya awal waktu pada diri kader. Ternyata banyak kader yang belum faham akan pentingnya indibat (disiplin.red) pada segala aktivitas yang mereka jalani. Kesuksesan dalam menumbuhkan nilai-nilai islam di kampus yang tercinta ini sesusngguhnya dimulai dari hal-hal yang kecil sekalipun. Azam dan komitmen kader yang hanya bisa terucap melalui bibir mereka tanpa mengaplikasikan dalam aktivitasnya sehari-sehari. Setelah beberapa saat ada suara akhwat yang mengucapkan salam. Mereka lebih dari satu orang, mungkin sekitar 4 orang. Akhirnya syuro’ dimulai dengan bacaan basmallah bersama, dilanjutkan dengan taujih rabbani yang artinya :
”Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Q.S At-taubah:41)
Subhanallah…ketika dibacakan ayat tersebut hatiku terasa bergetar, merasakan kebesaran Allah akan nikmatnya dakwah ini dan kesungguhan dalam menanamkan nilai-nilai islam yang kaffah (menyeluruh.red). Aku memberikan sedikit taujih tentang pentingnya militansi bagi seorang aktivis dakwah..
Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?
Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.
Itulah sedikit taujih dari ana, semoga hal ini bisa memberikan sebuah pengingatan untuk ana pribadi dan untuk akhi wa ukhti fillah. Syukron Jazakumullah Khoiron Katsiron
***
Kita mulai membahas rencana kegiatan untuk menyambut bulan ramadhan. Adnan terpilih menjadi ketua dari serangkaian kegiatan bulan ramadhan di kampus tercinta ini. Kegiatan di bulan ramadhan ini rencananya akan diawali dengan Tabligh Akbar, Spiritual Journey Training, Gebyar Seni Islami, dan lain sebagainya. Kegiatan besar ini membutuhkan komitmen yang kuat serta orang-orang yang militan.
“Akh Angga dan ukhti Dinda, antum jadi penanggung jawab (PJ) sie acara dan kreatif.”
Tiba-tiba adnan menunjuk aku, mereka memberikan kepercayaan mengenai konsep acara kepadaku. Tapi aku masih bingung siapakah sosok akhwat yang bernama dinda? Selama 2 tahun aku di fakultas ini, belum ada akhwat yang bernama dinda. Apakah dia mahasiswa semester 3, ah itu tidak mungkin! Lagian serangkaian di bulan ramadhan ini, panitia intinya adalah mahasiswa semester 5. Aku ingin menanyakan dinda kepada adnan, tapi aku tepis rasa itu karena aku merasa malu.
“Afwan akh…ana punya usul, gimana kalo pas Gebyar Seni Islami, kita menampilkan kelompok nasyid dari rohis kita. “
Terdengar suara akhwat dari balik hijab, suaranya cukup lugas dan tegas. Apakah dinda yang berbicara? Oh…ternyata suara itu milik dinda. Itu terbukti dari ucapan adnan ketika menanggapi usul dari dia. Adnan menyerahkan semua konsep acara kepada kita.
”afwan akh, ana minta nomornya ukhti dinda.”
085226100688, aku simpan nomor itu dengan nama ukh dinda. Jam sudah menunjukkan 17.30 WIB, syuro’ diakhiri dengan membawa sebuah misi jihad untuk keberhasilan agenda penting ini. Aku segera pulang ke rumah, melepaskan semua kepenatanku setelah beraktivitas seharian.
Malampun menyapa dengan sinar rembulan yang mengintip dari belakang jendela. Kerlipan bintang yang malu-malu memperlihatkan keindahan sinarnya. Subhanallah…penciptaan yang Maha Suci sungguh begitu luar biasa. Aku merebahkan tubuhku, melepaskan beban yang ada dipundakku, sesaat aku terngiang masa laluku yang cukup jahiliyah. Walaupun aku dibesarkan dalam nuansa islam, aku menjadi sosok remaja yang cukup tampan, populer dengan segudang prestasi dan menjadi idola siswi-siswi di sekolahku. Maklum, aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Sebelum aku memejamkan mata, aku mengambil wudhu dan bermunajah kepada-Nya. Karena dengan hidayah-Nya, aku bisa menikmati indahnya iman dan islam serta bingkai ukhuwah yang tak ternilai harganya.
Mentari mulai bersinar, aku segera mempersiapkan semua agendaku hari ini, salah satunya untuk berkoordinasi dengan dinda. Walaupun hari ini merupakan hari pertama puasa di bulan ramadhan, tapi harapannya tidak menjadikan sebuah halangan untuk beraktivitas seperti biasanya. Aku sudah membuat janji untuk koordinasi di sekretariat Rohis Al Ikhlas. Di pertengahan jalan menuju sekretariat, aku melihat sosok akhwat yang berjilbab lebar dengan berjalan cukup cepat. Akhirnya aku mendahului akhwat tersebut, pelangi dakwah masih sepi. Mungkin dinda belum datang, aku menyempatkan diri untuk membaca buku yang aku pegang, ‘Risalah Dakwah Kampus’ itulah judul buku yang aku baca. Subhanallah…buku yang penting dibaca untuk para aktivis dakwah, bahasanya yang kritis tentang perkembangan dakwah kampus yang akan merubah sebuah peradaban yang lebih baik lagi.
“Assalamu’alaikum…”
Terdengar salam dari balik hijab, ternyata dinda. Akhirnya dia datang juga. Kita memulai diskusi membahas serangkaian acara di bulan ramadhan. Aku merasa kaku dan gugup ketika berbicara dengan dia. Padahal aku belum mengenal siapa dia. Siapakah dinda sebenarnya, kenapa aku merasa sudah lama kenal dengan dia. Kujauhkan perasaan itu, aku harus fokus untuk membahas ini.
“Afwan akh…bisa dipercepat tidak, ana ada kuliah jam 8.”
“Ya, ini sudah mau selesai ko. Ana juga ada kuliah jam 8. Sebelum mengakhiri diskusi ini, ana memberanikan diri untuk bertanya kepada dinda.
“Afwan ukh, antum mahasiswa baru dikampus ini yach?”
“Iya.ana kuliah dulu, Assalamu’alaikum.”
Itulah jawaban yang cukup singkat, padat dan jelas. Padahal aku membutuhkan jawaban yang lebih daripada itu. Aku segera keluar meninggalkan pelangi dakwah menuju suatu laboratorium yang cukup representative untuk para mahasiswa melakukan suatu eksperimen dalam menggali suatu potensi maupun kecerdasan intelektualnya untuk bisa meraih prestasi yang luar biasa.
***
“Shafira Adinda Putri” seorang pria berkumis tebal, tinggi tapi dengan postur tubuh kecil, berkacamata agak kebawah layaknya seorang professor memanggil nama tersebut. Pak Rusli, nama panggilan beliau. Dosen paruh baya itu dengan bangga menerima mahasiswa baru pindahan dari bandung yang memilik segudang prestasi. Beliau memperkenalkan gadis berjilbab besar kepada mahasiswa yang lain dengan tujuan agar temen-temen bisa termotivasi dengan prestasi yang dinda dapatkan selama menjadi mahasiswa di bandung. Dengan PDnya gadis tersebut melangkahkan kakinya menuju depan kelas. Aku masih terkejut mendengar sebuah nama yang disebut oleh dosen yang terkenal kiler itu. aku langsung menundukkan pandangan dan berpikir, apakah dia adalah Shafira yang pernah aku kenal dulu?
Gadis tersebut mulai memperkenalkan namanya dan menceritakan berbagai pengalamannya seperti seorang motivator yang handal. Sementara aku, aku hanya bisa menundukkan pandangan tak berani menatap wajahnya secara langsung. Aku yakin, dia adalah shafira. Gadis yang mempunyai lesung pipit itu kini didepanku. Tiba-tiba tatapan mataku dan gadis jilbaber tersebut satu arah. Secepat kilat aku langsung membuang wajahku. Gadis itu terdiam, mungkin dia berfikir bahwa pria yang didepannya adalah orang yang pernah menyakiti hatinya. Akhirnya dia mengakhiri perkenalan ini. Kegiatan perkuliahan berlangsung seperti biasa, aku ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini dan segera menanyakan siapa dinda rekan kerja aku. Jam perkuliahan sudah berakhir, aku segera keluar. Ketika di jalan, aku bertemu dengan adnan dan aku langsung to the point.
“Ana mo tanya, nama panjang dinda siapa?”
“Shafira Adinda Putri, emang ada apa?”
Syukron, aku langsung meninggalkan adnan yang masih menunggu jawaban dariku. Aku merasa bingung harus menghadapi Shafira seperti apa. Aku termenung sejenak. Shafira adalah gadis yang pernah aku cintai dan aku sakiti, ketika SMA aku pernah menjadikannya sebagai bahan taruhan antara aku dan teman-temanku. Dia adalah gadis pujaan setiap siswa di sekolah, Shafira anak yang petiang, cerdas, tajir dan dermawan. “Kaulah Cintaku” itulah kata-kata gombal yang pernah aku rekam dan kemudian diberikan kepada Shafira sebagai tanda aku suka dia. Singkat waktu, aku jadian dengannya. Awalnya aku menjalani status ini layaknya air yang mengalir. Aku tidak tega melihat gadis yang tak pernah berbuat salah kepadaku, tapi aku telah menyakiti perasaannya. Akhirnya, aku jujur mengatakan semua yang aku perbuat kepadanya. Betapa kagetnya ketika dia mengatakan hal yang sama, ternyata dia menjadikan aku sebagai pacarnya karena aku seorang ketua OSIS dan itu berarti dia lebih unggul dari siswi-siswi lainnya. Aku merasa disakiti oleh kata-katanya. Sudah 3 tahun lamanya, aku tidak bertemu dengan Shafira. Semenjak peristiwa itu, dia langsung pindah dengan kedua orang tuanya tanpa memberitahu siapapun.
HPku bergetar menyadarkan lamunanku. Terlihat satu pesan masuk dari ukhti dinda. Segera aku membuka isi pesan dinda.
“Aslm…semoga hati-hati ini tetap dalam keridhoan cinta-Nya. Afwan apakah antum ini Angga Wiyoga?” ana ingin mentabayunkan peristiwa 3 tahun silam, ana tunggu di Pelangi Dakwah besok jam 6 pagi. Syukron…
Aku kaget membaca pesan dari Shafira, hari ini aku tidak ada agenda. Akupun membalas sms Shafira
“Waslm…Insya Allah ana bisa. Pesan tersebut langsung dikirim ke Shafira.
Malamnya aku bermunajah kepada Allah dalam sujud syukur atas anugerah yang nyata. Betapa Allah mengasihi hamba-hambanya yang senantiasa berada di jalan dakwah. Ya Rabb, aku memohon ampunan atas segala kebodohan yang aku perbuat di masa lalu. Allah adalah sandaran tempat mengadu dan memohon pertolongan tempat menentramkan kekhawatiran akan masa depan karena Dia adalah Mahatahu. Jadikan bulan ramadhan ini penuh berkah dan ampunan-Mu.
Esok harinya, di pelangi dakwah sudah ada Shafira, diapun hanya terdiam tak kuasa untuk membuka percakapan yang selama ini tak pernah ada. Akhirnya aku mengawali percakapan ini.
“Afwan ukh, 3 tahun silam ana pernah menyakiti hati anti, di bulan ramadhan yang penuh ampunan dan barakah ini mohon ikhlaskan segala salah dan khilaf yang dulu ana pernah perbuat. Jujur, ana dulu hanya terobsesi mendapatkan anti karena taruhan dan ketika anti pindah ke luar kota. Ana sadar, ana sempat mencintai anti yang tak semestinya itu dilakukan. Tapi itu dulu, sekarang ana ingin benar-benar ingin berdakwah di kampus ini dengan mencintai sang penggenggam hati, sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Afwan akh, ana juga minta maaf atas semua kekhilafan yang ana katakan dari lidah yang tak bertulang ini. Masa lalu biarkan berlalu, kita tatap dakwah ini semakin proggress dengan kader-kader yang militan. Jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum besar untuk berjihad di jalan-Nya dengan bingkaian ukhuwah yang indah.
Kata-kata dari Shafira begitu mendamaikan hatiku. Allah telah menghadirkan seorang mujahidah Islam baru di kampus ini. Pejuang yang akan menyebarkan nilai-nilai Islam di kampus yang makin gersang ini. Dengan semangat dan azam yang kuat dalam dirinya untuk berkontribusi dalam menegakkan kalimatullah di kampus ini. Semoga Allah menjadikan hubungan antara aku dan Shafira sebagai hubungan yang suci. Bukan hubungan seperti dulu, yang menyalahartikan makna cinta yang hakiki dan menggantinya dengan cinta semu. Kini kami sadar bahwa cinta yang sempurna dan hakiki hanyalah untuk Allah semata. “Kaulah Cintaku ya Allah…”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, besatu dalam rangka menyeru (dakwah) di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela pertalianmu, maka kuatkanlah pertaliannya, ya Alla, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lampangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifah-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong. Amin. Dan semoga sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada semua sahabatnya.

Bumi Allah, 10 September 2008

Citra Lardiana Putri


BIODATA PENULIS :
Nama : Citra Lardiana Putri
NIM : 7250406010
Jurusan/Fak : Akuntansi/Ekonomi
Kost : Pesantren Basmala “Khodijah Binti Khuwailid” Gg Cempaka Sari III
CP : 085697459045

Tidak ada komentar: