Jumat, 12 September 2008

Kaulah Bintangku

”Kaulah Bintangku...”

Dheana Putri



Dapatkah Aga mendapatkan cinta dari Safira? Mustahil. Namun, Aga bersikeras untuk bisa meluluhkan hati Safira. Maklum, dia sedang taruhan dengan temannya yang bernama Anggi dan Agus. Siapa yang bisa menjadi pacar gadis cantik, pintar, tajir dan sholeh seperti Safira akan mendapatkan HP mereka yang kalah. Aga dengan paras wajah yang hitam manis, cool, supel dan banyak digandrungi oleh teman-teman putrinya. Karena selain punya wajah yang cukup menarik, dia juga menjabat sebagai ketua Osis di sekolahnya.
Lapangan hijau menjadi saksi bisu atas perjanjian 3 A (Aga, Anggi dan Agus) selepas meninggalkan benda berbentuk bundar.
”Eh, kamu dah siap belum dengan taruhan kita?” tanya Agus sambil mengusap-usap keringat di lehernya.
”Pasti donk...” jawab keduanya.
Akhirnya perjanjian itupun disepakati ketiganya. Air botol yang mereka pegang seakan menjadi kesaksian atas kesemangatan mereka dalam berebut hati Safira. Semula berawal dari penuturan Agus, ia bilang Safira sebagai gadis yang susah untuk diluluhkan hatinya. Sebenarnya Agus juga tidak terlalu meyakini gadis itu akan mudah didekati.
Karena Safira siswa yang menjunjung akademis berbeda dengan kebanyakan siswa lainnya. Dimana kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan masa-masa remaja. Rata-rata dari mereka baru berumur 17 tahun. Iapun mengajak kedua temannya untuk melakukan taruhan. Namun, Agus tidaklah sepopuler Aga. Dia hanya cukup punya paras OK, tapi kurang romantis. Lain halnya dengan Anggi, dia adalah atlit basket tapi sifat dia yang masih kekanak-kanakan menjadikan dia berulang kali diputusin oleh pacarnya.
Segala macam jurus telah mereka persiapkan untuk melakuan PDKT dengan Safira. Aga adalah sosok cowok yang punya segudang prestasi mulai dari ketua osis terbaik sampai dengan juara umum lomba cerdas cermat. Tapi dia sering mengecewakan banyak siswa putri di sekolahnya. Karena dia seperti memberi sebuah harapan kepada mereka untuk bisa menjadi pacarnya. Aga punya prinsip tidak akan ’Pacaran’ selama dia masih sekolah. Dengan adanya taruhan ini, dia merasa tertantang bahwa dia merasa siswa yang paling populer di sekolahnya. Tak ada yang berani menolak ketika dia meminta jadi pacarnya. Dia berfikir seribu kali untuk bisa mendekati Safira, karena selama ini walaupun mereka sering disatukan dalam lomba cerdas cermat, Safira tetap saja cuek kepadanya. Safira menganggap dia hanya sebagai rekan tim dalam memperoleh kemenangan dan membawa nama baik sekolahnya. Padahal banyak teman-teman Safira yang mencoba untuk menjodohkan mereka berdua. Safira hanya tersenyum manis menanggapi ocehan temen-temannya.

***

”Mathematic Competition merupakan kesempatan untuk bisa PDKT dengan Shafira.” gumamnya.
Ajang yang selalu membawa mereka untuk bekerjasama memperoleh kemenangan. Karena selama ini, keduanya memiliki kemampuan yang lebih cerdas daripada teman-temannya.
Paras nan ayu dan lesung pipit membawakan kesejukan kepada setiap orang yang melihatnya. ”Matematika untuk SMA” sebuah buku yang dipegangnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang yang sebenarnya selama ini didambakan oleh Safira. Perasaan yang bergejolak dalam hatinya kini kian terbendung melihat kekecewaan banyak siswa putri lain yang mengaguminya.
”Assalamu’alaikum...” ucapan lembut keluar dari bibirnya.
”Wa’alaikumussalam...” jawab Safira dengan nada gugup
Dengan basa-basi dia menanyakan kabar dan persiapan kompetesi penting yang akan mereka hadapi. Safira hanya menjawab datar tanpa ada respon yang di nginkan oleh siswa yang tidak terlalu jauh duduk di disampingnya.
”Oh iya, ada bimbingan matematika dengan pak Agung”
”Dimana dan jam berapa?”
”Jam 2 siang di ruangnya pak Agung.” Sambil melangkahkan kakinya menuju kekelas dengan sedikit rasa kecewa bahwa hari ini dia belum berhasil. Safira hanya bisa memandangi dia sampai tak terlihat wujudnya.
”Ya Allah, apakah ini yang dinamakan Cinta? Ketika dia jauh, aku merasa ingin bertemu dengannya, menyebut namanya, mengingat wajahnya dan masih banyak yang aku pikirkan tentang dia.” Safira merasa bimbang dengan perasaannya.
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Safira melangkah menuju ruangan pak Agung. Disana terlihat Aga sedang berbincang-bincang dengan sosok guru yang menjadi idola seluruh siswa di sekolah ini. Bertubuh besar dan tinggi serta naluri kebapakan yang ada pada diri pak Agung sehingga beliau menjadi idola. Dua jam kita lalui untuk memperdalam materi matematika. Mungkin kebanyakan siswa merasa sulit dalam mepelajari matematika, berbeda dengan keduanya.
”Safira, ayo pulang bareng, ayah kamu tidak bisa menjemput kamu khan?”
”Safira tersontak kaget mendengar ucapan Aga, lho kamu ko’ bisa tau ayah tidak bisa jemput? Lagian aku mau naik angkutan saja.”
”Aku Cuma nebak aja ko’ jam segini khan sudah tidak angkutan lewat sini, ya udah mending kamu bareng aja sama aku. Kita khan satu arah, tenang aja Kasih, aku tidak akan macam-macam sama kamu. Percaya dech...
Wajah gadis itu berubah warna kemerah-merahan mendengar ucapan yang keluar spontan dari bibir Aga. Diluar sana Aga merasa grogi, dia berfikir kenapa bisa mengucapkan hal sekonyol itu. Aduh, pasti Safira marah. Safira berpikir sejenak.
”Ma...af” Sontak keduanya mengeluarkan kata yang sama.
”Maaf kalau ada ucapanku yang salah”
”Safira hanya tersenyum kecil menghiasi parasnya, maaf nanti aku ngrepotin kamu.”
”ga apa-apa.”
Tanpa berfikir kedua kalinya akhirnya Safira menerima tawaran Aga. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam kaku tanpa sepatah katapun. Padahal, keduanya ingin berbagi cerita. Sampai di rumah Safira, keduanya masih diselimuti keheningan.
”makasih yach.”
”sama-sama, aku langsung pulang, takut kesorean.”
Safira hanya mengangguk pelan dan terus memandangi motor bebek jenis Karisma X 125 CC yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dalam hatinya, sejuta kebahagiaan mengiringi langkahnya. Sama halnya dengan Aga, dia merasa mendapatkan bulan di siang bolong. Dia masih bingung terhadap perasaannya. Kenapa wajah Safira selalu melintas dalam benaknya.
”Ah, mungkin aku merasa bahagia karena sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan Safira dan tentu saja HP keluaran terbaru milik Anggi dan Agus.” gumamnya.

***

”Gimana kemajuan kalian mendekati Safira?” tanya Aga.
”Ketemu sama orangnya aja susah, apalagi PDKT sama dia.” gumam Anggi dengan mencibirkan bibirnya.
”Aku sudah memboncengkan Safira lho...”
”Apa??? Yang bener aja.”
”Ya bener donk, aku akan memenangkan taruhan ini. Buktinya, Safira mau bareng dengan aku. Lagian dia juga kayaknya suka sama aku. Jadi, aku tinggal nunggu waktu tuk bilang sayang sama dia.”
Agus dan Anggi hanya mencibir karena keduanya gagal dalam mendekati sang primadona sekolah. Apalagi HP keduanya terancam menghilang karena harus diserahkan ke Aga. Oh...betapa konyolnya semua ini.
Dua minggu Aga dan Safira selalu bersama, berawal dari bimbingan untuk kompetisi matematika sampai keduanya bisa saling berbagi. Dari hal menceritakan kepribadiannya masing-masing. Hal-hal yang disukai atau tidak. Segudang aktivitas yang dijalani seakan tak merasa kelelahan karena keduanya dibawa dalam lautan cinta. Mereka tak sadar, bahwa mereka saling menyukai. Hanya ego mereka yang mengalahkan rasa cinta yang sudah lama terpendam sejak mereka bertemu dalam Masa Orientasi Siswa (MOS). Ketika saat itu, Aga sebagai peserta putra terbaik dan Safira sebagai peserta putri terbaik.
Rumah hijau yang berukuran 10 X 12 meter dengan taman-taman yang menghiasi halaman depan membawakan sejuta keindahan. Rumah yang cukup sederhana, begitulah kesan terhadap rumah tersebut. Padahal penghuninya adalah salah seorang Pimpinan kantor perpajakan di sebuah kota besar. Dr. Indra Riyanto, S.E, M.Si, Akt adalah ayah Safira. Kehidupan yang cukup sederhana dengan mengutamakan pendidikan agama didalamnya sehingga menjadikan Safira dan adiknya yang bernama Azam mengetahui pemahaman agama yang memadai.
Tepatnya di hari minggu mereka berkumpul di halaman teras untuk menikmati pemandangan sekililingnya yang tak akan bosan melihat sekuntum teratai yang bertahan hidup di tengah-tengah air.
”Assalamu’alaikum...” terlihat sosok remaja cool dengan baju soft blue yang melekat di badannya menambah ketampanan, sehingga matahari tersipu malu melihat parasnya yang gagah.
”Wa’alaikumusalam...” jawab mereka kompak.
Setelah beberapa saat, kedua orang tua dan adik Safira meninggalkan teras. Keadaan ini membuat keduanya salah tingkah. Padahal sudah sehari semalam Aga mempersiapkan momentum besar ini. Dengan nada gugup Aga membuka percakapan.
”Oya, gimana persiapanmu untuk Mathematic Competition?”
”Aku sudah mempelajari materi yang akan diujikan sekitar 90%, tetap enjoy aja dech yang penting kita jalin kerjasama yang baik dan kesolidan tim kita, key!”
”Oh...pasti, ngomong-ngomong tehnya manis banget, wah pasti buatnya dicampur dengan bumbu cinta.”
Safira hanya tertunduk malu mendengar ucapan spontan yang keluar dari Aga. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Aga meminta ijin untuk pulang. Aga memberikan sebuat kaset untuk Safira bertuliskan ”Kaulah Bintangku...”, dalam hati Safira bertanya apa isi kaset itu. Dia melepaskan kepergian Aga dengan sejuta tanya.
Malam harinya, Safira mencoba memberanikan diri untuk mendengarkan kaset yang diberikan oleh Aga. Dengan hati yang bergejolak dengan rasa cinta dan sayang. Maklum, ini merupakan ”The First Love” bagi Safira. Diawali dengan lagu-lagu melankolis, dan saatnya ketika didalam kaset itu terdengar suara Aga

Ketika kau selalu acuh padaku
Betapa sakitnya hati ini
Tapi aku tahu bahwa suatu saat
Cinta itu hadir dalam hatimu
Namun kau hidup mengalir
Dalam pori-pori cinta dan semangatku
Sebab kaulah bintangku
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku...!
Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana
Tinggi menggapai surga...
(Salim A. Fillah, 2006:227)

Oh, betapa bahagianya Safira mendengar kata-kata cinta dari Aga. Seakan dia sedang bermimpi untuk mendapatkan seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Pikirannya melayang jauh di atas awan. Hanya ada kesunyian dan keheningan yang selalu setia menemani malam-malamnya. Dengan cepatnya Safira mengambil kaset kosong yang ada di atas meja belajarnya. Dan menjawab pernyataan cinta dari Aga lewat kaset tersebut. Awalnya Safira berfikir lama, apakah dia akan menerima ataukah tidak? Tapi perasaan cinta itu lebih besar daripada logikanya.
Di tempat yang lain, Aga memikirkan apakah perbuatan yang dilakukan akan menyakiti hati Safira. Dia khan tidak pernah menyakitiku, kenapa aku tega menyakitinya. Tapi semuanya sudah terlanjur, aku sudah membuat janji dengan temen-temenku. Ingin rasanya membatalkan perjanjian itu. Matanya semakin sayu, lelap dan tidur dalam mimpi.

***

Aga berusaha menjauh dari Safira karena ia tak tega menyakitinya. Safira merasa bingung dengan sikap Aga, lalu diberikannya kaset buat Aga melalui Anggi. Seusai pulang sekolah, ketiga siswa rupawan dengan perasaan cemas mendengarkan isi kaset tersebut. Ternyata, Safira juga sayang sama aku.
”Ya Allah, apa yang harus aku lakukan padahal selama ini aku hanya pura-pura suka padanya.” gumamnya dalam hati.
Setelah berfikir sejenak, Aga bermaksud menyudahi kebohongan besar ini. Ditemuinya Safira di taman sekolah. Safira merasa senang karena dia mendapatan cinta Aga. Aga mendekati Safira dan berkata dengan gugup...
”Maafkan aku...”
Safira tak mengerti maksud perkataan Aga. Dengan perasaan yang berat, akhirnya Aga mengungkapkan perihal dia menyukainya hanya karena kepuasan ego semata dan sebagai ajang taruhan.
Seketika itu, hati Safira hancur tercabik-cabik, kecewa dan sakit hati. Dia dijadikan sebagai ajang taruhan. Tapi Safira tak tinggal diam, dengan cepat Safira membalasnya dengan tegar sambil menahan airmata.
”Maafkan aku juga...selama ini aku tak pernah serius suka sama kamu, aku hanya menjadikanmu sebagai prestise semata. Ketika aku bisa mendapatkanmu maka kepopuleranku akan semakin meningkat.”
Aga kaget dengan mata yang melotot tajam bahwa Safira juga mempermainkanku. Keduanya hanya diam tak bisa berkata apapun, Safira tak bisa menahan tangis. Diapun pergi meninggalkan Aga tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba saatnya Mathematic Competition diadakan, pak Agung merasa heran karena keduanya hanya diam. Kompetisipun berjalan dengan baik, walaupun keduanya harus menahan perasaan dan harus bekerjasama secara profesional. Kemenangan diraih oleh mereka berdua, tapi mereka hanya tersenyum terpaksa karena hati yang galau.
Esok harinya ketika mereka akan mendapatkan penghargaan dari sekolah, Aga tecengang karena Safira tidak ada. Dia bingung harus bertanya pada siapa, setelah berbicara dengan Pak Agung, ternyata Safira pindah sekolah ke kota lain. Betapa hancur dan merasa kehilangan akan sosok Safira. Seusai pulang sekolah, dia memberanikan diri untuk menuju rumah Safira. Dan ternyata rumah sederhana itu telah kosong. Dia mencoba bertanya kepada tetangga dan hanya mendapat jawaban yang kurang memuaskan bahwa Safira dan keluarganya telah pindah ke luar kota. Sejak saat itu Aga merasakan sebuah penyesalan dan kekecewaan terhadap dirinya.
Kini hanya malam yang senantiasa menjaga tidur Aga. Matanya langsung menatap pada sebuah kaset dari Safira. Dia mendengarkan dengan perasaan haru dan menatap sepercik cahaya di atas awan. ”Kaulah Bintangku...” tetaplah bersinar dalam heningnya malam.

***

Tidak ada komentar: