Jumat, 12 September 2008

Sahabat...Kembalikan Senyumku

Sahabat...kembalikan senyumku

Ah...lagi-lagi aku teringat peristiwa itu, airmatapun jatuh tanpa disadari. Tepatnya hari Sabtu, 26 April 2008, sebuah momentum besar dalam hidupku.
”De, mba dah siap ayo berangkat bareng.”
Seorang gadis berusia 19 tahun yang berstatus mahasiswa semester 2 keluar dari kamarnya dengan memakai gaun biru...wach sungguh anggun gadis yang biasa di sapa ”Nurul”, berpawakan tinggi besar, hidung mancung ’n black sweet (hitam manis), dia adik kostku. ” Citra Lardiana Putri ” namaku, sebuah nama yang terukir cantik dalam balutan cinta. Aku duduk di semester 4 jurusan akuntansi. Greng...greng...bunyi motor yang siap melaju. Entah mengapa, pagi itu aku punya firasat yang kurang baik.
”Dah siap mba?” tanya Nurul.
”Yupz...”
Motorpun melaju dengan cukup cepat seperti para pembalap motor yang sedang betarung di area sirkuit.
”Mba, aku mo ambil kamera di Qonitat.”
Akupun hanya bengong menunggu gadis lincah itu masuk ke Qonitat (nama sebuah kost).
Kamerapun diambil, dengan cepat dia keluar dari pintu. Motorpun melaju kembali, kebetulan kita satu arah. Aku sebagai panitia wisuda Fakultas Ekonomi, sedangkan nurul sebagai panitia seminar muslimah yang diadakan oleh UKKI (Rohis Universitas).
***
”Aduh...kepalaku sakit banget, matapun tak bisa melihat dengan jelas. Hanya suara-suara ribut yang terdengar di teligaku.” batinku.
”Assalamu’alaikum...saudara adi, teman anda yang bernama Citra kecelakaan.” kata salah seorang warga. Dia berusaha menghubungi teman-teman aku.
”Maaf bu, sekarang saya lagi di Bandung.” jawab adi.
Ah...semakin aku bingung, kenapa warga menghubungi temen-temenku, aku masih tak sadar saat itu. Tak sengaja, mataku tertuju pada seorang gadis yang berlumuran darah.
”Nu...nu...nurul...ya Allah apa yang terjadi pada gadis itu.” Aku coba menenangkan diri. Pada saat itu pula, ada salah seorang warga yang berusaha memberikan segelas air putih untuk menyadarkan aku. Ternyata...
”Ya Allah, betapa sakitnya kepalaku dan terasa pusing.” batinku.
Aku baru sadar, ternyata aku dan nurul mengalami kecelakaan. Aku hanya bisa menangis dan merasa bahwa hidupku tak lama. Astaghfirullahal’adzim...aku hanya beristighfar dalam hati disertai tetesan air mata. Aku belum ikhlas ketika saat itu juga ruh aku dipisah dari jasadku. Disekitarku, warga merasa kebingungan tak tahu harus berbuat apa.
”Mba Aris...kepalaku sakit dan pusing.” keluh aku pada sesosok orang yang sudah aku kenal dekat. Mba Arispun mendekat dan seketika itupun aku dan nurul dibawa ke dokter ita di kawasan patemon. Warga begitu panik melihat keadaan kita berdua yang tak berdaya. Kitapun dibawa dengan memakai sebuah mobil yang melintas hendak menuju ke acara wisuda. Subhanallah...betapa mulianya orang tersebut. Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah senantiasa memberikan banyak keberkahan dalam hidupnya.
Dalam perjalanan aku terus merasa kesakitan disertai muntah-muntah. Temen-temen yang menemaniku didalam mobil mencoba menghubungi sanak saudara maupun teman-teman aku.
***
Sesampainya di tempat dokter ita, beliau tidak menanggung karena melihat keadaan kami yang cukup parah. Akhirnya kami dibawa ke rumah sakit karyadi semarang. Setibanya disana, kami langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Karyadi Semarang..
”Oh...apa yang akan terjadi setelah itu?”
Aku langsung diperiksa oleh beberapa dokter dan perawat yang sedang jaga. Aouw...aku merengek kesakitan, ternyata di tangan kananku di pasang infus. Pernapasan aku dibantu dengan tabung oksigen. Diluar sana, temen-temen kost dan yang lain merasa bingung serta panik. Subhanallah...mereka sungguh luar biasa memberikan perhatian kepada kami. Inilah sebuah ukhuwah yang begitu sangat kudambakan. Setelah beberapa menit diperiksa, akupun dibawa ke sebuah ruang radiologi untuk di rongsen. Di jalan temen-temen kost bercanda.
”Ukh...ada Pak Gery loh.” kata heni, temen kostku.
Aku hanya tersipu malu dan GRnya minta ampun. Pak Gery merupakan orang nomor satu di tingkat mahasiswa. Beliau adalah Presiden Mahasiswa, orangnya bijak, masalah tampang cukuplah (astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa hamba). Setelah masuk di ruang radiologi, Alhamduilllah aku tidak mengalami luka yang parah, hanya terkena beberapa benturan keras. Berhubung aku belum mendapatkan ruang inap, aku kembali ditempatkan di ruang UGD.
Terlihat beberapa sosok wanita yang raut mukanya memperlihatkan kesedihan sehingga kecantikannya tertutupi. Mereka adalah Niswah, Fenti, Ika, Esen dan Dian. Sahabat dan saudara yang selama ini selalu bersama aku ketika kuliah maupun kegiatan. Dan ikut merasakan ketika aku dalam keadaan sedih maupun senang. Kita kelihatan selalu bersama-sama walaupun terkadang ada perbedaan sedikit. Namun itu semua dijadikan sebuah keindahan dalam menjalin persahabatan dan ukhuwah ini.
”Rumah sakit aja ngantri?” batinku.
Disampingku terlihat Nurul yang merasa kesakitan juga. Dia mengalami luka-luka yang cukup parah, tulang hidungnya patah serta giginya tanggal empat. Astaghfirullahal’adzim...sungguh tragis. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis. Terbesit sebuah penyesalan kenapa tidak aku saja yang didepan, kenapa dan kenapa. ”Mungkin ketika aku yang didepan, tidak akan terjadi kecelakaan seperti ini.” keluh aku.
Sudahlah...ikhlaskan semua ini, ini adalah ujian kepada hamba-Nya. Jika kamu sabar dalam menghadapinya, maka Allah akan meninggikan derajat keimananmu. Subhanallah ada kelembutan yang menyirami hatiku melalui kata-kata indah itu. Tak tahu siapa yang mengatakannya, tapi aku yakin itu benar.
” Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (Q.S Al-Insyirah : 6)
***
Suara handphoneku terus berbunyi, baik dari saudara aku yang di rumah maupun di Jakarta serta temen-temenku yang ingin mengetahui keadaan aku seperti apa. Di rumah sakit temen-temenku berdatangan. Mereka masuk satu persatu untuk melihat keadaanku, aku berusaha menahan tangis. Ketika personil ”Bintang Group (nama sebuah kost)” menjenguk aku, wah ada sebuah kesejukkan...why? karena ada ”Arif”. Dia adalah salah seorang temenku yang kocak abiz.
”Eh...ntar kalian dimarahi lho sama dokter.”
”Gampanglah...dokternya lum ada ko.” sahut Arif.
Setelah beberapa saat kita bergurau, ada sosok lelaki berpawakan tinggi besar dengan pakaian putih yang melekat dibadannya masuk ruang UGD.
”Gimana sich mba, saya khan sudang bilang, jangan ganggu pasien!” tegas dokter pada mba Aris.
Aku hanya tersenyum manis melihat ocehan dan tingah laku dokter itu. Seketika para personil ”Bintang Group” sontak keluar dari UGD. Sampai diluar ruangan, mereka malah ketawa geli. Tiba saatnya solat dhuhur, aku hanya bisa bertayamum dan melakukan sholat dengan berbaring.Ya Allah...betapa banyak nikmat yang Kau berikan kepada hamba-Mu ini.
Terlihat sosok pria bertubuh besar, hidung mancung dan memakai jas hitam. Wouw...keren banget. Ternyata Pak Kusmuriyanto, dosen waliku di kampus. Beliau menyempatkan waktunya untuk menjengukku. Aku hanya bisa berbicara pelan. Beliau menasihati dan mendo’akanku.
***
Jam sudah menunjukkan 16.30, aku baru bisa mendapatkan ruang inap. Seketika itupun aku dipindahkan keruang tersebut. Betapa malunya ketika saat aku dipindahkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Di situ hanya ada mas iparku, mba Aris, Pak Saiful, akh dona. Banyak sekali temen-temen berdatangan untuk menjenguk aku, dari ketua rohis UKKI beserta jajarannya. Temen-temen ekonomi, subhanallah mereka sayang banget sama aku. Wah... jadi GR abiz. Terlihat empat sosok wanita cantik-cantk mendekati aku, ternyata mereka adalah dosenku. Betapa bahagianya aku...
Mentari mulai tertutup awan, malampun kian menyapa sebuah kehangatan batinku. Datanglah sebuah bapak setengah baya membawa sepiring bubur dengan lauknya. Oh...aku harus dipaksa makan bubur. Tapi aku tidak nafsu makan. Malam itu, aku ditemani oleh mba lili, mba lina dan suci. Begitulah cinta mereka yang ditunjukkan kepadaku. Semoga Allah senantiasa mendekatkan keimannya kepada-Mu. Aku tak bisa tidur, yang kurasa hanya kesakitan dan bingung dalam mengambil posisi tidur. Teringat sebuah pesan dari dokter untuk membangunkanku setiap dua jam sekali. Membuat suci dan temen-temen mungkin seperti satpam yang menjaga sang putri yang tidur dan kelelahan dalam tangis. Jam terus berputar seolah tak mau memberi kesempatan kepada orang yang belum bisa memanfaatkan harinya dengan baik. Oh...jam menunjukkan pukul 12 malam, mba lili dan temen-temen yang lainpun membangunkan ketenangan tidurku.
” De, bangun dulu yach...”
Dengan perasaan berat, akupun terbangun dari mimpi panjang yang melenakan. Beliau bercerita tentang kisah seorang istri nabi muhammad yang bernama ” Shafiyah ”. Hampir 20 menit dia bercerita panjang lebar mengenai Sofiyah, bagaimana beliau bisa menikah dengan Rosulullah, bagaimana sifatnya dan banyak hal lain yang ada pada dirinya. Dari kisah tersebut, ada banyak hikmah yang dipetik untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
***
Mentari dengan malu-malunya menyunggingkan senyumnya menyambut kicauan burung-burung yang menari-nari di atas awan. Pagi itu terasa sunyi, kesedihan kembali muncul. Hanya ada sosok berpawakan kecil dan hitam manis yang selalu menemaniku. Dia adalah mba aris, kakak tingkatku di kampus biru. Sesungguhnya masih banyak orang-orang yang lebih besar ujiannya daripada aku. Tiba-tiba muncul sesosok wanita dengan raut muka yang sudah keliatan keriput, senyum dan kesedihan bercampur jadi satu.
” Anakku...” teriak seorang wanita sambil kedua tangannya memeluk erat diriku dengan penuh kelembutan.
” Ma... ma...ma...” akupun terbata-bata dan menangis dalam pelukannya dengan menahan sakit dikepalaku. Alhamdulillah, ibu dan saudara laki-lakiku datang menjengukku. Betapa ada rasa kesejukkan yang masuk dalam hatiku. Beliaupun menasehatiku agar tetap bersabar dan selalu mendekatkan diri pada-Nya. Aku ingin bersenandung buat Ibunda tercinta seperti alunan nada indah ini.
Cinta dan tulus pancaran kasih dan sayangmu
Tunaikan amanah Tuhan
Sucinya baktimu
Kesal tiada kau rasa tuk menggapai cahaya cinta
Menempa putra tercinta
Harapan agama...
Wahai ibunda dengarkanlah
Senandung jiwa penuh makna
Beribu kalbu hapus duka lara
Wujud cintaku padamu Ibunda
(Justice Voice, Ibunda)
”Assalamu’alaikum...” terdengar suara laki-laki di balik pintu
” Wa’alaikumussalam... ” jawab kita serentak
Ternyata dibalik pintu yang hanya berukuran kurang lebih 1 X 3 M terlihat dua laki-laki dengan tampang gagah. Mereka adalah temenku waktu sekolah. Eros dan Tino namanya. Setelah beberapa saat, muncul laki-laki dan wanita yang mendekat ke ruanganku. Mereka adalah Meta dan Rudi, temen sekolah juga.
” Wah, pertemuan ini kayak ajang reuni sekolah. ” gumamku.
” Iya, sudah 2 tahun lho kita tidak ketemu ” kata eros.
” ya udah, habis lebaran kita ngumpul-ngumpul yach? ” pinta meta
Sekitar 20 menit mereka menemaniku, mereka meminta ijin pulang. Setelah beberapa saat, ada 8 laki-laki dengan paras yang cukup cool dengan jaket hitam yang melekat. Bisa dibilang identitas seorang aktivis selalu berjaket, setuju ga? Merekapun masuk keruangan. Aku merasa malu dan bahagia karena perhatian mereka kepada teman seperjuangan di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) begitu besarnya.
***
Tak terasa sudah dua hari aku di rawat. Betapa mudahnya orang mengeluarkan uang sebesar itu hanyak untuk mendapatkan kesehatan. Subhanallah...betapa besar nikmat sehat-Mu. Terkadang masih banyak orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat tersebut. Lamunanku hilang ketika ada beberapa teman kost yang menjengukku kembali. Canda tawa seketika menghilangkan sejenak rasa sakitku. Mereka membawakan sebuah tas dan ketika aku lihat isinya, tenyata segala perlengkapan kecantikan seperti bedak, hand body dan parfum. Dengan cepat endang dan teman-teman memainkan jarinya dengan licah mengambil perlengkapan tersebut untuk dioleskan ke wajah dan tanganku. Setelah selesai, mereka ijin untuk menjenguk nurul di ruang lain. Aku hanya bisa menitipkan salam dan rinduku untuk dirinya.
Aku hanya termenung pagi itu. Sosok berputih mengejutkan, oh ternyata beliau adalah asisten dokter Eric, dokter yang menanganiku dirumah sakit. Beliau memberikan kepastian bahwa hari ini aku bisa pulang. Aku senang sekali ketika mendengar kabar tersebut. Ah, lagi-lagi aku dikecewakan dengan omongan beliau. Sampai jam 12 siang, dokter eric belum juga datang. Aku dan keluarga hanya diberi janji tanpa kepastian. Ketika itu tepat jam 1, dokter Eric yang kutunggu-tunggu muncul memperlihatkan wajahnya (jujur yach kayak bukan dokter aja) memberikan instruksi kepada aku untuk menutup salah satu mata dan menebak pertanyaan beliau. Akhirnya beliau memutuskan aku boleh pulang hari itu juga.
Langit begitu cerah dengan mentari yang mengintip dari balik awan. Ketika mentari itu muncul bunga-bungapun merasa malu karena kecantikannya dikalahkan oleh sang mentari. Aku terbangun dengan kesejukkan hati, aku berdzikir memanjatkan do’a kepada-Nya. Tak sadar aku sudah berada di dalam rumah yang selama ini aku lahir dan dibesarkan dalam surga cinta.
Kulangkahkan kakiku dengan Bismillah...semoga hari ini dan hari-hari yang akan datang begitu indah. Aku berharap akan menjadi seorang muslim yang lebih baik dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukkan, keceriaan dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Menjadi Muslim adalah putih di hat, merah muda di kata, dan warna-warni dalam laku. (Salim A. Fillah, 2006:1)
Untuk semua sahabatku, maaf dan terima atas segala support dan perhatiannya. Semoga keikhlasan dan kelembutan hanya untuk mencapai ridho-Nya. Senandung lagu untuk semua sahabatku...kembalikan senyumku.
Sahabat...temani diriku saat kuterluka
Akhirkan banyak masalah dan aral yang melintang
Akankah kita selalu bersama
Sahabat walaupun jarak yang memisahkan kita
Kuberharap jalinan dan kasih kan utuh selamanya
Akankah semua kuat sedia
Tercipta untuk kita hingga akhir masa...
(Justice Voice, Sahabat)


Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Bumi Allah, 10 Juni 2008
Citra Lardiana Putri

Tidak ada komentar: